PROSIDING NADWAH ULAMA NUSANTARA (NUN) V, 9-10 JUN 2015
265
Ulama dalam Sorotan
1
Sholeh Fikri
1
Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan
Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara, Sumatera Utara, 22733 Indonesia
Abstrak: Ulama adalah seseorang yang menjadi panutan bagi masyarakat dalam beragama dan berkehidupan
sehari-hari, kerana ulama adalah seorang yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai keikhlasan, kejujuran,
kesederhanaan, dan sifat mulia lainnya. Ulama akan menjadi perhatian jika keluar dari fitrahnya sebagai figur
yang selalu bergelut dengan ilmu-ilmu ke-Islaman, dengan dunia pendidikan Pesantren dan terjun ke dunia
politik. Posisi Ulama di satu sisi akan memberikan kontribusi sebagai pembelajaran politik kepada
masyarakat dan disisi lain akan meninggalkan lahan yang biasa digarapnya yaitu mengembangkan ajaran
Islam dan lembaga pendidikan.
Kata kunci: ulama, ilmu keislaman, pesantren, politik
PENGENALAN
Ulama adalah kata jama’ dari ‘alim, berasal dari kata
dalam bahasa Arab yang bermakna orang yang
memiliki banyak ilmu sama ada ilmu agama
mahupun ilmu umum. Namun dalam
pemahamannya kemudian kata-kata ulama tersebut
dikhususkan kepada orang yang memiliki ilmu
agama sahaja dan juga orang yang taat kepada
Tuhannya. Seperti yang disebutkan di dalam al-
Qur’an bahawa ulama adalah orang-orang yang
bertaqwa kepada Allah (Q-S.Fathir: 28) yang
berbunyi (innama yakhsyallah min ‘ibadihi al-
‘ulama). Dalam konteks sosiologis di Indonesia,
pengertian ulama bahkan dipersempit lagi dengan
kriteria ada pengakuan dari masyarakat, meskipun
sering kurang memerhatikan kriteria penguasaan
ilmu agama. Kriteria lainnya adalah kebiasaan
memberikan pengajian atau caramah agama,
meskipun sering hal ini lebih ditentukan oleh
keterampilan seseorang berbicara di depan umum,
dan bukan pada kemampuan substansialnya
mengenai ilmu-ilmu agama. Kriteria terakhir adalah
tingkah laku dan atribut lahiriah tertentu yang biasa
dikenakan ulama. (Nanang Tahqiq (ed), 2004: 189).
Ajaran Islam menempatkan ulama sebagai
pewaris para Nabi yang memiliki tugas dan fungsi
sebagai pelaku amar makruf dan nahi mungkar.
Tugas tersebut jika diselaraskan dengan ayat al-
Qur’an yang berbunyi, ‘Dialah mengutus kepada
kaum buta huruf seorang Rasul di antara mereka,
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka,
menyucikan mereka dan mengajarkan kepada
mereka kitab dan hikmah. Sesungguhnya mereka
sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang
nyata’ (QS. Al-Jumu’ah: 2).
Jika diuraikan tugas ulama sebagai pewaris
Nabi maka ulama bertugas:
menyebarkan dan memertahankan ajaran-
ajaran dan nilai-nilai agama,
melakukan kontrol dalam masyarakat,
memecahkan problem yang terjadi dalam
masyarakat, dan
menjadi agen perubahan sosial.
Dalam perkara ini ulama merupakan orang
yang menduduki posisi yang terhormat dalam
kehidupan bermasyarakat, bukan sahaja kerana ilmu
yang tinggi tapi ia juga adalah orang yang menjadi
contoh tauladan bagi kehidupan masyarakat. Dalam
banyak kegiatan sosial masyarakat, sama ada dalam
bidang sosial, ekonomi dan juga politik. Ulama
selalu menjadi pertimbangan strategis dalam
menentukan apakah kegiatan tersebut akan
dilanjutkan atau dibatalkan.
Dalam sejarah masyarakat Indonesia ulama
telah menjadi pioner perjuangan dari sejak masa
dahulu hingga ke masa sekarang. Perjuangan demi
perjuangan dalam melawan penjajah Belanda, Jepun
hingga kepada perjuangan memberantas Parti
Komunis Indonesia pada masa dahulu. Tidak sedikit
daripada ulama yang menjadi hero dalam melawan
penjajah. Pada masa penjajahan Belanda di wilayah
Padang Sumatera Barat, perjuangan melawan
penjajah Belanda dipimpin oleh seorang ulama yang
bernama Tuanku Imam Bonjol, Buya Hamka,
PROSIDING NADWAH ULAMA NUSANTARA (NUN) VI: Ulama dan Umara Berpisah Tiada
disunting oleh: Ezad Azraai Jamsari, Azmul Fahimi Kamaruzaman, Izziah Suryani Mat Resad @ Arshad
Suhaila Zailani @ Ahmad, Ermy Azziaty Rozali & Farid Mat Zain
© Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor
ISBN 978-983-9368-66-6 (2015), http://www.ukm.my/nun/