Jurnal Penelitian Siswa 2016 SMA Negeri 3 Cilacap 1 PENDAHULUAN Pernyataan KH. Said Agil Siradj Ketua PBNU versi Muktamar Jombang tahun 2015 yang menyatakan “Orang berjenggot itu mengurangi kecerdasan, jadi syaraf yang sebenarnya untuk mendukung kecerdasan otak, ketarik oleh, untuk memanjangkan jenggot,” sontak membuat geger kalangan umat Islam di Indonesia. Pernyataan kontroversi tersebut juga mengundang pro dan kontra di kalangan warga NU sendiri. Sebagian kalangan NU ada yang membenarkannya dan sebagian yang lain ada yang menyalahkan bahkan mengecamnya. Pernyataan pembelaan terhadap pernyataan KH. Said Agil Siradj di antaranya datang dari Hamim Mustofa Nerashuke dalam webnya : www.ngaji.com. Sebenarnya Hamim Mustofa Nershuka hanya mencoba menengahi dengan memberikan beberapa alasan warga NU tidak menghujat habis-habisan terhadap KH. Said Agil Siradj. Dalam webnya Hamim Mustofa Nerashuke menyebutkan beberapa pendapat yang senada dengan pernyataan KH. Said Agil Siradj. Di antaranya adalah : 1. Abdul Malik bin marwan berkata: “Barangsiapa panjang jenggotnya maka ia sedikit akalnya.” 2. Ashabul firosah berkata: “Ketika seseorang tinggi perawakan dan panjang jenggotnya maka bisa dipastikan ia orang yang bodoh.” 3. Sebagian Ahli Hikmah mengatakan: “Tempatnya akal itu pada otak, jalan jiwa itu melalui hidung dan tempat kebodohan itu pada panjangnya jenggot.” 4. Sa'ad bin Manshur mengatakan: “Aku berkata kepada Ibn Idris: “Apakah kamu tahu Sulam bin Abi Hafshah ?” Dia menjawab : “Iya, aku melihat panjang jenggotnya dan dia bodoh.” 5. Ziad berkata: “Tidaklah tambah lelaki yang jenggotnya melebihi genggammannya, kecuali hanya tambah kurang akalnya (kecerdasannya).” Pernyataan kecaman di antaranya datang dari NU Garis Lurus. Dalam webnya NU Garis Lurus menyebutkan bahwa para Kyai NU HUBUNGAN JENGGOT DENGAN KECERDASAN DAN PENAMPILAN Shafna Annisa Harimurti dan Dona Fitria Nur Azizah ABSTRAK Sejak KH. Said Agil Siradj melontarkan pernyataan bahwa jenggot dapat mengurangi kecerdasan, muncul berbagai reaksi baik pro maupun kontra. Tujuan dari penelitian adalah menguji apakah ada hubungan antara jenggot dengan kecerdasan dan sikap ramah. Berdasarkan kajian literatur diperoleh data bahwasanya tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenggot dengan kecerdasan maupun dengan sikap ramah. Metode yang kami gunakan adalah kuantitatif dengan melakukan survei untuk mengumpulkan data-data prestasi akademik dan sikap perilaku 15 orang yang berjenggot dan 15 orang tidak berjenggot yang kami pilih secara acak (random sampling) kemudian membandingkannya dengan bantuan software SPSS. Hasil analisis regresi linier menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara jenggot dan kecerdasan sebesar 58 %. Nilai IPK dari responden yang tinggi 33,7%-nya dipengaruhi oleh keberadaan jenggot. Sehingga dalam uji T diketahui bahwa jenggot memiliki pengaruh terhadap peningkatan kecerdasan pria karena signifikansinya hanya 0,001. Seluruh pria yang berjenggot maupun yang tidak berjenggot sama-sama bisa berpenampilan yang menarik. Kata Kunci : jenggot, IPK, kecerdasan, ramah