Pengaruh Gradasi Agregat 12 Jurnal Forum Bangunan : Volume 12 Nomor 1, Januari 2014 PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP KARAKTERISTIK BETON SEGAR Nurlita Pertiwi Jurusan Pendidikan Teknik Sipil Dan Perencanaan Universitas Negeri Makassar ABSTRACT The aim of this research is to know the effect of gradation natural aggregate to the characteristic of fresh concrete. Gradation of aggregate are found from composition of size granular fine and coarse aggregate. The method of research is an experimental method. Sample were made from four kinds of fine aggregate (zone 1,2,3, dan 4) and three kinds of coarse aggregate with the same composition. The result of research are good slump value made from zone 1 (very rough), zone 2 (rough), and zone 3 (fine). The fine aggregate with fines granular (zone 4) give eligible slump if mixed with coarse aggregate size of 40 mm. Required the appropriate bleeding acquired in the use of fine aggregate zone 1, zone 2, zone 3 and zone 4. Maximum grain size of coarse aggregate has no effect on the bleeding produced. The appropriate density factor required is obtained on the use of fine aggregate zone 1 and zone 2. Maximum grain size of coarse aggregate has no effect on the density of the resulting. Keywords: bleeding, density factor and slump value PENDAHULUAN Dalam pembuatan beton direncanakan karakteristik beton segar dan kekuatannya. Pada saat beton segar, diharapkan agar terdapat kemudahan dalam pengerjaannya. Sedang pada saat mengeras, beton yang mudah dikerjakan akan sulit untuk mencapai kuat tekan beton yang tinggi. Gradasi agregat mempengaruhi sifat beton yang dihasilkan olehnya pencampuran agregat kasar dan agregat halus hendaknya memperhitungkan gradasinya. Agregat yang menempati lebih dari 70% volume beton sangat memperngaruhi karakteristik beton segarnya. Secara umum pembuatan beton di Indonesia menggunakan agregat alami dalam bentuk dalam bentuk agregat kasar dan agregat halus. Namun gradasi agregat yang tersedia tidak seragam untuk setiap lokasi. Perencanaan campuran beton yang diatur dalam SK SNI T-15-1990-03 memberikan syarat agregat halus terdiri dari empat zone dan agregat kasar terdiri dari 3 jenis. Kombinasi dari campuran agregat halus dan agregat kasar belum diatur dalam SK SNI T-15-1990-03, namun hanya berdasarkan kebiasaan perencana. Mulyono (2005) menguraikan bahwa gradasi agregat campuran yang baik kadang sangat sulit didapatkan langsung dari quarry. Sedangkan Obla dan Kim (2008) menguraikan bahwa campuran beton dengan kombinasi agregat menerus masih diperdebatkan. Di satu sisi pembuatan beton mensyaratkan