Studia Insania, April 2015, hlm. 97-110 ISSN 2088-6306 Vol. 3, No. 2 INSAN KAMIL DALAM PEMIKIRAN MUHAMMAD NAFIS AL-BANJARI DAN ABDUSH-SHAMAD AL-FALIMBÂNÎ DALAM KITAB AD-DURR AN-NAFIS DAN SIYAR AS-SÂLIKÎN (SEBUAH STUDI PERBANDINGAN) 1 R o d i a h Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin Diterima tanggal 18 November 2015 / Disetujui tanggal 30 September 2015 Abstract This paper tries to explore the concept of Insan Kamil through two books of Sufism, ad-Durr an-Nafis by Muhammad Nafis al-Banjari and Siyar as-Salikin by Abdush-Shamad al-Falimbânî. The method used in this paper comparative descriptive approach, because the studies referred to in this study aims to look at the similarities and differences of the concept of Insan Kamil contained in both books. These results indicate that the thought of Muhammad Nafis al-Banjari in the book ad-Durr an-Nafis and Abdush-Samad al-Falimbânî in the book Siyar al-Salikin against the concept of Insan Kamil has the same basic concept, in addition to the typical thinking its own distinct between the two. Kata kunci: Insan Kamil, ad-Durr an-Nafis, Siyar as-Sâlikîn, Perbedaan, Persamaan. Pendahuluan Transmisi tradisi intelektual-keagamaan dari basis intelektual Islam yang berpusat di Haramayn pada abad XVII dan XVIII M memunculkan gejolak dan dinamika pemikiran Islam Nusantara. Hal tersebut salah satunya ditandai dengan banyaknya literatur ilmiah keagamaan yang dihasilkan. Sejumlah ulama terkemuka yang berkontribusi dalam pembentukan tradisi intelektual Islam menghubungkan berbagai doktrin, konsep, ajaran, dan pemikiran intelektual keagamaan yang berkembang di Haramayn ke Nusantara. 2 Kecenderungan para ulama Nusantara pada masa tersebut adalah mistis-filosofis yang dipadukan dengan sufisme. Wacana ilmiah yang muncul pada periode tersebut salah satunya adalah konsep Insan Kamil. Konsep Insan Kamil yang muncul dalam dunia tasawuf sekitar abad VII H/XIII M pada akhirnya berkembang dalam pemikiran Islam hingga ke Nusantara. Dalam wacana Islam Nusantara, konsep Insan Kamil dibahas secara khusus dalam kitab-kitab tasawuf. Tingkat pemahaman yang berbeda membuat paradigma yang ditemukan menghasilkan asumsi beragam antara berbagai kitab. Berangkat dari kenyataan tersebut, perlu adanya kajian yang bertujuan untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman yang baik terhadap konsep Insan Kamil dari kitab tasawuf. Kajian terhadap konsep Insan Kamil dipilih pada dua kitab tasawuf sekaligus, yaitu kitab ad-Durr an-Nafis karya Muhammad Nafis al-Banjari dan Siyar as-Sâlikîn karya Abdush- Shamad al-Falimbânî. 1 Tulisan merupakan skripsi pada jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Humaniora 2 Oman Fathurahman, Ithaf al-Dhaki Tafsir Wahdatul Wujud Bagi Muslim Nusantara (Bandung: Mizan, 2012), 50.