1 PENERAPAN PENILAIAN OTENTIK DALAM KOMPETENSI BERSASTRA (MEMBACA) Sabjan Badio 1 A. Pengantar Penilaian otentik (autentik) bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia Pendidikan di Indonesia. Lahirnya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian berubah menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah mewajibkan para guru untuk mengenal lebih jauh penilaian atau asesmen otentik. Kemunculan Kurikulum 2013 yang juga berbasis kompetensi, semakin menegaskan bahwa penilaian otentik harus dikuasai dan diterapkan oleh praktisi pendidikan di tanah air. Kendati pun demikian, fakta menunjukkan bahwa belum semua guru menguasai apalagi menerapkan penilaian otentik dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian atas guru SMP mata pelajaran Bahasa Indonesia di DI Yogyakarta menunjukkan bahwa, walaupun 85% guru menyatakan bahwa pelatihan dan seminar tentang evaluasi pembelajaran bahasa sangat penting, tercatat hanya 10,5% guru yang menyatakan sering mengikuti pelatihan dan atau seminar tentang evaluasi pembelajaran (Nurgiyantoro dan Suyata, 2009:227—228). Oleh karena itu, merupakan sesuatu yang wajar—walaupun tidak dapat dimaklumi—jika masih banyak guru yang belum menguasai penilaian otentik. Penilaian atau asesmen otentik tidak sekadar tentang siswa, melainkan juga tentang guru, tepatnya kompetensi dan kinerja guru. Untuk dapat menerapkan penilaian otentik dengan baik, seorang guru hendaknya menguasai materi dan strategi pembelajaran dengan baik, termasuk di dalamnya bagaimana melakukan evaluasi pembelajaran secara otentik. Adanya ujian nasional, sedikit banyak memengaruhi penilaian pembelajaran yang dilakukan para guru. Tidak sedikit pemangku kepentingan di tanah air yang melihat kualitas sebuah lembaga pendidikan dari perolehan nilai ujian nasional sebuah sekolah semata. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sekolah, terutama pada kelas VI, IX, dan XII, menyikapinya dengan fokus kepada menyelesaikan soal-soal ujian nasional. Padahal, untuk ujian nasional, hampir mustahil untuk menggunakan penilaian otentik (Nurgiyantoro, 2011:30). Maka, tidak mengherankan pula jika di lapangan para guru semakin jauh dari penerapan penilaian otentik dalam proses pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Kondisi seperti ini tentulah tidak dapat dibiarkan begitu saja. Harus ada usaha-usaha untuk mengkaji, menyampaikan, dan mengevaluasi pembelajaran di sekolah, terutama berkenaan dengan penerapan penilaian otentik dalam kegiatan belajar-mengajar. 1 Program studi Linguistik Terapan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (2014)