Biofarmasi 1 (1): 25-38, Pebruari 2003, ISSN: 1693-2242 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta. REVIEW: Ellagitanin; Biosintesis, Isolasi, dan Aktivitas Biologi REVIEW: Ellagitannin; biosynthesis, isolation, and biological activities UDHI EKO HERNAWAN , AHMAD DWI SETYAWAN Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta 57126. Korespondensi: udhi_ z@myquran.com,  biodiv@uns.ac.id. Tel./Faks. +6271-663375. Diterima: 14 Januari 2003. Disetujui: 28 Pebruari 2003. Abstract. Ellagitannin is one of the bioactive groups produced by some of medicinal plants. Ellagitannin is a hydrolysable tannin compound biosynthesized via shikimic acid – gallic acid – pentagalloilglucose pathway. Ellagitannin can be isolated by cascade extraction procedures followed by column chromatography method and preparative HPLC method. The biological activities of ellagitannin are caused by molecular bond between ellagitannin and some other compound, especially protein that makes complex compound and changes physiological processes in cells or tissues of the living- thinks. Biological activities of ellagitannin included anti-diabetic, anti-microbes, anti-viruses, anti-hypertension, anti- oxidative, and anti-cancer or anti-tumor. Key words: ellagitannin, biosynthesis, isolation, extraction, biological activities. PENDAHULUAN Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan utama dalam pengobatan telah menjadi bagian dari kebudayaan hampir setiap bangsa di dunia (Lee et al., 2000). Sekitar 60% penduduk dunia hampir sepenuhnya menggantungkan diri pada tumbuhan untuk menjaga kesehatan (Farnsworth, 1994). Se- dangkan menurut perkiraan WHO, lebih dari 80% penduduk negara–negara berkembang tergantung pada ramuan tradisional untuk mengatasi masalah kesehatan (Khan et al., 2002). Peran tumbuhan sebagai bahan obat sama pentingnya dengan perannya sebagai makanan (Raskin et al., 2002). Tumbuhan menghasilkan berbagai macam senyawa aktif yang memberikan efek farmakologi. Umumnya, senyawa aktif tersebut tidak berperan penting dalam metabolisme tumbuhan, sehingga sering disebut sebagai metabolit sekunder (Stepp dan Moerman, 2001; Liu et al., 1998). Metabolit sekunder telah lama diketahui sebagai sumber terapi medis yang efektif dan penting, misalnya sebagai obat anti-bakteri dan anti-kangker (Cragg, 1997). Senyawa ini secara terus menerus menjadi sumber utama berbagai obat berkhasiat penting (Harvey, 2000). Dalam praktek pengobatan tradisional, masyarakat telah memanfaatkan senyawa aktif dari berbagai tumbuhan dalam bentuk ramuan obat, untuk menyembuhkan penyakit. Senyawa aktif da- lam tumbuhan telah menjadi sumber inspi- rasi untuk terapi penyakit yang sulit atau mahal pengobatannya (Raskin et al., 2002). Senyawa aktif tumbuhan dapat dikelompokkan dalam empat golongan, yaitu: fenol, alkaloid, terpenoid, dan asam amino non protein. Penggolongan tersebut didasarkan atas prekursor, struktur dasar dan jalur biosintesisnya (Edwards dan Gatehouse, 1999; Smith, 1976). Senyawa-senyawa tersebut memiliki variasi yang luas dalam diversitas kimia, distribusi dan fungsinya (Smith, 1976). Golongan fenol dicirikan oleh adanya cincin aromatik dengan satu atau dua gugus hidroksil. Kelompok fenol terdiri dari ribuan senyawa, meliputi flavonoid, fenilpropanoid, asam fenolat, antosianin, pigmen kuinon, melanin, lignin, dan tanin, yang tersebar luas di berbagai jenis tumbuhan (Harbone, 1996). Tanin secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks dengan protein. Berdasarkan strukturnya, tanin dibedakan menjadi dua kelas yaitu taninterkondensasi (condensed tannins) dan tanin-terhidrolisiskan (hydrolysable tannins) HO HO HO O OH OH HO HO HO O HO OH OH OH O (1) asam galat (2) asam heksahidroksidifenat O O OH OH O O HO HO HO HO HO O O - (3) asam elagat (4) galoil