Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-2 Tahun 2011 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang D.79 MODEL PROGNOSIS UNTUK BANTALAN GELINDING Moh. Arozi, Achmad Widodo dan Joga Dharma Setiawan Laboratorium Kontrol dan Getaran, Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang, Semarang 50275, Indonesia e-mail: arosiboy@yahoo.com Abstrak Maintenance memiliki peran penting dalam dunia industri saat ini. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kontribusi biaya maintenance memiliki porsi yang cukup besar atas biaya total produksi pada semua bidang industri. Salah satu teknik perawatan yang digunakan saat ini dan berkontribusi besar atas peningkatan efektifitas dan efisiensi perawatan adalah perawatan berbasis kondisi (condition based maintenance - CBM). CBM memiliki dua faktor penting yaitu diagnosa kerusakan mesin dan prognosis mesin. Pendekatan untuk CBM ini terbagi pada tiga kategori utama: pendekatan statistik, pendekatan kecerdasan tiruan, pendekatan berdasarkan model. Salah satu implementasi nyata dari CBM memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia dan dapat digunakan sebagai acuan dalam implementasinya di seluruh perlengkapan industri adalah pada bantalan gelinding (rolling element bearing). Fokus penelitian ini pada pengembangan sebuah model matematika dan model program simulink yang mampu menampilkan efek geometri dan posisi cacat pada outer race terhadap getaran pada bantalan gelinding. Makalah ini membahas pemodelan matematik dan pemodelan simulink atas bantalan gelinding dengan menggunakan variabel geometri cacat dan posisi cacat pada outer race bantalan gelinding, serta menganalisis getaran yang diperoleh dari running model simulink yang telah dibuat. Kata kunci: perawatan, bantalan gelinding, defect, model matematik, model simulink, analisis getaran. PENDAHULUAN Saat ini daya saing menjadi suatu hal yang sangat penting bagi suatu industri atau perusahaan, dimana tingkat daya saing yang dimiliki akan meningkatkan peluang untuk bertahan dan berkembang industri tersebut. Daya saing atau kemampuan berkompetisi ini dipengaruhi secara langsung oleh keamanan operasional, ketersediaan aset dan tingkat efektifitas biaya maintenance. Pemenuhan atas ketiga aspek ini sangat tergantung pada implementasi maintenance di industri itu sendiri. Untuk itu mengatur maintenance secara lebih efektif menjadi hal penting dan telah memperoleh perhatian khusus dari para ahli dan praktisi maintenance. Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa kontribusi biaya maintenance memiliki porsi yang cukup besar atas biaya total produksi pada semua bidang industri. Selain itu, trend yang terjadi adalah adanya peningkatan biaya maintenance di masa depan seiring perkembangan teknologi di dunia industri. Teknik maintenance (pemeliharaan) yang tepat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Tujuan utama dari teknik pemeliharaan adalah menjaga mesin dan perlengkapan pabrik dalam kondisi operasi yang bagus untuk mencegah kerusakan dan kerugian produksi . Fase perkembangan dari teknik pemeliharaan (maintenance) dimulai dari corrective maintenance atau breakdown maintenance. Corrective maintenance adalah sebuah strategi dimana maintenance dalam bentuk kerja perbaikan atau penggantian hanya dilakukan ketika mesin mengalami kerusakan. Fase berikutnya adalah schedule maintenance (atau disebut pemeliharaan yang direncanakan atau pemeliharaan pencegahan),yang mana diaplikasikan untuk memperoleh sebuah pemeliharaan dengan interval berkala yang didasarkan pada kondisi sehat dari sebuah komponen atau system. Fase maintenance yang ketiga adalah condition based maintenance (CBM). CBM juga dikenal sebagai predictive and proactive maintenance yaitu sebuah teknik untuk mengakses kondisi actual mesin. CBM biasanya digunakan untuk mengoptimalkan schedule maintenance. CBM terdiri dari evaluasi secara kontinyu terhadap kondisi mesin yang dimonitor dan mengidentifikasikan kesalahan-kesalahan sebelum gangguan fatal terjadi. Dengan mengorganisasikan CBM, keuntungan biaya dapat dicapai. Ada factor penting untuk mendukung CBM, yaitu diagnosa kesalahan mesin dan prognosis mesin.