1 INVENTORI ARSITEKTUR TRADISIONAL MANDAILING GODANG Isnen Fitri * , Syamsul Bahri, Miduk Hutabarat, Iwan Setiawan, Butet Sri Laksmi Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of Sumatera Utara, Medan 20155, *email isnen@usu.ac.id Abstract Wilayah Sumatera Utara yang terletak di sebelah Barat Indonesia merupakan suatu wilayah yang kaya dengan aneka ragam etnis . Di dalamnya terdapat delapan kelompok etnis yang merupakan penduduk asli yakni Toba, Karo, Angkola/Sipirok, Mandailing, Melayu, Nias, Pak-Pak/Dairi dan Simalungun serta belasan etnis lain yang berasal baik dari Indonesia maupun dari luar negeri. Ke delapan etnis ini tersebar di wilayah pantai timur, dataran tinggi dan pantai barat Sumatera. Masing-masing etnis ini mempunyai potensi bahasa, sastra, musik, sosial-budaya, lingkungan serta arsitektur yang berbeda satu sama lain. Ini merupakan aset yang bernilai sangat tinggi bagi propinsi Sumatera Utara dan bangsa Indonesia umumnya. Makalah ini akan mendiskusikan dan mendeskripsikan mengenai arsitektur tradisional Mandailing yang masih sangat jarang ditulis dan diteliti. Seperti halnya terjadi pada hampir seluruh warisan tradisional di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Mandailing, juga menghadapi tantangan perubahan dan ancaman kepunahan warisan budaya tradisional disebabkan oleh pertumbuhan turisme maupun paham modernisme yang hanya identik dengan keseragaman. Penjiplakan tanpa mempelajari konsep filosofi desain arsitektur tradisional dan pembangunan yang tidak dikendalikan telah membawa kehancuran pada wajah suatu warisan budaya dan mengakibatkan lahirnya generasi yang tidak mengenal lagi akar budayanya, asal- usulnya dan merasa terasing di tengah masyarakatnya. Inventori ini berusaha menemukan beberapa konsep mengenai arsitektur tradisional Mandailing baik mengenai bangunan adat, rumah tinggal atau hunian, lingkungan dan permukimannya sehingga hal tersebut dapat dijadikan suatu landasan bagi transformasi atau reinterpretasinya kedalam perancangan bangunan modern. Dengan demikian inventori ini akan menjadi suatu upaya awal bagi kegiatan pelestarian warisan tersebut. 1.INTRODUCTION Kelompok etnik Mandailing mendiami wilayah pantai barat Sumatera yang berbatasan dengan Samudra Indonesia, dan daerah dataran sebelah selatan propinsi Sumatera Utara berbatasan dengan wilayah propinsi Sumatera Barat, atau tepatnya pada posisi geografis 00 0 13‟30” – 01 0 20‟42” LU dan 98 0 50‟19” - 99 0 50‟19”. Sekarang ini wilayah Mandailing merupakan wilayah administrasi yang berdiri sendiri yang dinamakan dengan kabupaten Mandailing Natal. Kabupaten yang diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 ini bersama-sama dengan Kabupaten Toba Samosir merupakan daerah otonom termuda di propinsi Sumatera Utara. Luas wilayahnya sekitar 6.620,70 Km2 dengan penduduk kurang lebih 352.027 jiwa. (Pemda Kabupaten Mandailing Natal, 1999). Kelompok etnik ini memiliki kekayaan budaya tradisional berupa adat istiadat, arsitektur, musik, folklor, bahasa, sastra, aksara dan lain sebagainya. Sistem kekerabatan sosial yang khas dan unik dari kelompok etnik Batak dan Mandailing yaitu Dalihan Natolu artinya tiga tumpuan. Sistem kekerabatan sosial tersebut dinamakan demikian karena terdiri dari kelompok kekerabatan yang terdiri atas tiga komponen yang masing-masing dinamakan Mora, Kahanggi dan Anak Boru. Selain itu masyarakat Mandailing kaya dengan sastra etnik berupa legenda dan mite yang dinamakan Turi-turian, mempunyai aksara tradisional yang dinamakan huruf tulak-tulak, dan juga kaya dengan puisi yang dinamakan ende-ende. Selain itu dari segi historis, Mandailing menyimpan banyak cerita menarik, salah satunya mengenai asal usul Mandailing yang masih simpang siur sampai saat ini. Pada masa dahulunya, Mandailing merupakan satu kerajaan kecil (huta) yang konon termahsyur dengan tanahnya yang subur dan kaya dengan hasil buminya seperti tambang emas. Sehingga mengundang para pendatang untuk mengunjungi negeri ini. Dari beberapa literatur sejarah yang ditemukan terdapat berbagai macam versi mengenai asal usul nama Mandailing. Ada yang menyebutnya dulu dengan Mandala Holing seperti yang dituliskan Mpu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama, ada yang menyebutnya dengan Mundailing yang berarti bangsa Munda ( sekitar India) yang didesak oleh bangsa Aria lalu mengungsi ke Sumatera. Ada juga yang menyebutnya dengan Mande Hilang yang berarti ibu yang hilang. Dari berbagai macam versi mengenai mitos (myth) yang