Apa yang Tidak Dibicarakan Keka Membicarakan Lagu Cinta Irfan R. Darajat Beberapa orang memandang bahwa lagu cinta adalah sebuah kenistaan, terlepas dari persoalan kehidupan sehari-hari; terisolasi. Beberapa krik dialamatkan kepada deret lagu populer yang berbicara soal cinta, baik dari rezim maupun penulis krik musik. Remi Sylado pernah mengungkapkan kriknya dalam “Satu Kebebalan Sang Mengapa”. Ia mempersoalkan bagaimana lagu populer Indonesia berhen pada pertanyaan mengapa, dan tak kunjung beranjak pada perenungan atas pertanyaan tersebut; bebal 1 . Abdurrahman Wahid tak berbeda, dalam pandangannya lagu cinta populer yang banyak terdengar di sekitar kita dak memberikan fungsinya sebagai bahan edukasi. 2 Ada pula pandangan yang memisahkan lagu protes dengan lagu cinta; lagu polik dan lagu cinta. 3 Kalaupun benar adanya sebutan lagu protes itu, lalu bagaimana jika protes dan gugatan dialamatkan kepada seseorang yang telah membuat remuk hanya? Bukankah itu sebuah protes? Persoalan polik hidup harian? Lalu bagaimana dengan lagu yang dak membicarakan cinta maupun protes? Bagaimana menempatkan lagu tersebut? Hal inilah yang kemudian menuntut keha-haan dalam melakukan kategorisasi pada tema lagu dalam sebuah krik. Sebelum terlalu terburu-buru dan lebih jauh membuat kesimpulan yang tak jelas, ada baiknya untuk mencoba melakukan penilikan ulang terhadap definisi polik. Urusan polik bisa jadi dak melulu persoalan protes masyarakat dan negara, atau urusan negara yang menekan rakyatnya. Urusan polik bisa jadi menjadi urusan yang biasa kita temui sehari-hari dan mungkin remeh- temeh. 4 Melakukan usaha pembongkaran atas sikap polik lagu-lagu cinta mungkin saja menjadi usaha yang muskil. Tapi, mencoba membaca lagu cinta pada era tertentu bisa jadi cara yang baik untuk memahami alam pikir dan konteks keseharian sebuah masyarakat. Meskipun dak sesederhana itu pula, lagu cinta yang dibicarakan dalam tulisan ini akan serta-merta mendemonstrasikan langsung apa yang terjadi pada konteks sosial di luar. Melalui lirik-lirik lagu cinta kiranya kita dapat melacak dan memperkirakan diskursus yang tersirat di dalamnya—sebuah wacana akan hal tertentu. Semua Sama di Hadapan Musik Pop Sedikit mengulang kilasan sejarah, musik pop kerap kali ‘diatur’ oleh rezim sebagaimana diharapkan menjadi representasi atas identas dan karakter bangsa. Kenangan tentang 1 Remy Sylado, Satu Kebebelan Sang Mengapa, Jurnal Prisma bulan Juni 1977, halaman 23 – 31. 2 Disarikan dari Gus Dur dan Krik Musik Pop Indonesia,s www.tribunnews.com/tribunners/2011/08/29/gus-dur-dan-krik-musik-pop-indonesia-1 3 WarningMagz! Edisi #5, Folk: They Are A Changin. 4 Kekuasaan dalam cara pandang Michel Foucault adalah alat untuk menormalisasi individu-individu di dalam masyarakat melalui disiplin dan norma (Haryatmoko, 2002: 14).