Ramai-Ramai Menjadi Idola Dangdut Masa Kini; Praktik Komodifikasi Dalam Acara Kontes Dangdut di Indosiar Irfan R. Darajat Dangdut dikatakan sebagai musik paling populer di telinga masyarakat Indonesia. Sejak dimutakhirkan oleh Rhoma Irama pada tahun 1970-an, sampai kini perkembangan musik dangdut bisa dikatakan semakin bergairah. Mulanya dangdut merupakan percampuran irama dari Melayu, India dan Arab, lalu semakin hari irama dangdut semakin banyak percampuran dan variasinya. Pada masa awal kemunculannya, Rhoma Irama mengklaim bahwa dia membawa langsung irama dangdut melayu yang dicampurkan dengan irama rock dari barat, sedangkan Elvy Sukaesih menyatakan bahwa dia mengambil sari pati irama India untuk formulasi musik dangdutnya (Weintraub, 2010: 32-33). Perdebatan menyoal irama ini tidak berlangsung sengit di antara keduanya, justru setelahnya Rhoma dan Elvy malah terlihat begitu harmonis, mereka bahkan menjadi simbol atas Raja dan Ratu Dangdut. Perdebatan terbesar dalam jagat dangdut justru muncul ketika Inul muncul di tahun 2003 dengan kontroversi goyangannya. Rhoma menanggapi kemunculan tersebut dengan ketidaksukaan, wacana terkait moralitas dihadirkan, perdebatan tentang Undang-Undang Pornografi semakin menguat. Rhoma Irama menolak jika irama yang dibawakan oleh Inul dikategorikan sebagai dangdut; Dangdut koplo atau dangdut Pantura 1 . Dalam rentang waktu yang panjang, perkembangan variasi irama dangdut sangat beragam. Dari percampuran irama pop, india, rock, disco, hingga irama musik daerah seperti yang kini dapat didengar pada irama musik dangdut koplo. Tapi, irama yang paling memancing amarah memunculkan perdebatan adalah irama dangdut koplo. Begitupun dengan wacana yang berkembang pada label kelas yang disematkan pada musik dangdut, dari musik kampungan pada tahun 1970 sampai tahun 1980-an, hingga bergeser menjadi musik Nasional di tahun 1990-an. Kini, musik dangdut sudah tidak lagi diperdebatkan sebagi musik kampungan atau musik nasional. Musik dangdut seperti mengalami kebangkitan dari tidur panjang dalam industri musik dan hiburan Indonesia, hal ini dilihat dari kemunculannya di televisi. 1 Pada Konferensi Nasional PAMMI (Persatuan Ars Musisi Melayu Indonesia) yang diadakan pada 4 Maret 2012, Rhoma Irama menyatakan menolak islah dangdut koplo, dia membedakan islah dangdut dan koplo. “Dangdut ya dangdut, koplo ya koplo. Jangan sebut dangdut koplo.”