Michael Sega Gumelar Cultural Design: Studi Banding Kritis dari Bali untuk Proyeksi Masa Depan Dayak Jurnal Studi Kultural Volume I No. 2 Juli 2017 www.an1mage.org 91 Jurnal Studi Kultural (2017) Volume II No.2: 91-101 Jurnal Studi Kultural http://www.an1mage.org/p/jurnal-studi-kultural.html Laporan Riset Cultural Design: Studi Banding Kritis dari Bali untuk Proyeksi Masa Depan Dayak Michael Sega Gumelar* Dayak Jangkang, Sanggau, Kalimantan Barat, www.an1mage.org, Institut Teknologi Keling Kumang, Universitas Udayana, Universitas Surya Info Artikel Sejarah artikel: Dikirim 19 Februari 2017 Direvisi 7 Maret 2017 Diterima 9 Mei 2017 Kata Kunci: Cultural Design Bali Dayak Proyeksi 1. Pendahuluan Budaya berasal dari kata cultural di Bahasa Inggris dari akar kata culturae dari Bahasa Latin. Budaya (cultural) adalah kata sifat, bila dijadikan kata benda maka menjadi kebudayaan (culture). Budaya merupakan induk dari semua yang dilakukan manusia. Budaya melingkupi pengetahuan (knowledge), ilmu pengetahuan atau sains (science), dan teknologi (technology). Pengetahuan (knowledge) artinya tahu adanya sesuatu dan ada kemungkinan mampu menggunakannya. Sebagai contoh tahu adanya mobil, komputer dan lainnya serta mampu untuk menggunakannya, tetapi hanya sebatas sebagai tahu saja tidak mengerti bagaimana cara membuatnya. Ilmu pengetahuan jauh lebih maju dari sekedar tahu. Ilmu pengetahuan (science) artinya tahu, mampu menggunakannya dan mampu membuatnya. Seperti contoh seseorang suku Dayak mengetahui ada mobil, mampu mengemudikan mobil, dan mampu membuat mobil. Teknologi (technology) adalah hasil nyata dari ilmu pengetahuan, yaitu karya berupa mobil, smartphone, komputer, buku, internet dan hasil karya manusia lainnya yang tidak hanya menjadi ide di pikiran saja tetapi sudah tertuang menjadi materi (tangible) [1]. Budaya gobal yang sekarang menjadi tren utama di berbagai area dan masuk ke ranah budaya lokal relatif memengaruhi secara sedikit dan atau banyak. Budaya global yang berasal dari negara lain yang memiliki cakupan informasi yang lebih luas dan mudah diakses ini memiliki potensi membentuk kesadaran palsu yang sangat kuat (false consciousness) [2] dan menjadi hegeformaslaves. Jangan heran bila melihat generasi baru di Indonesia karena kesadaran palsu yang didapat dari negara lain karena arus globalisasi menyebabkan mereka menjadi lebih mengenal budaya Jepang, budaya Korea, budaya U.S.A, budaya dari negara-negara Eropa dan budaya lainnya yang kuat mendominasi informasi dan pikiran generasi muda, sehingga mereka hanya tahu itulah budaya mereka. Cultural is a construction runs on an ongoing basis from a bad to a better direction from and for humans in an environment to achieve prosperity, happiness and peace of all people in an area. Clash of cultural is a necessity that is inevitable in the era of information and globalization. There is a strong cultural dominance in globalization to imply a false consciousness to the younger generation and its hegemonic. Even some people being hegemony information slaves (hegeformaslaves) by cultural and sadly they do not even realised it. There is a cultural resistance, adaptation, and acculturation occur. When thinking about the need for a strong cultural identity, the need for redigging, reshaping, and finding again the ancestral identity and used as construction of new cultural identities as a unifying with the goal of unity, prosperity, happiness and peace in a community. This globalization era required a local merger with global thought that does not cancel each other out, but belong together and complete it. Thinking "local go global" resulting in a mix of local and global (Locglo). Instead of thinking global-local (Glocal), global tends to intimidate and repress local in the sense that the main priority is global and not local. Locglo is thought that promotes local equivalent to the global. Dayak in the need of reconstructing a better cultural identity requiring comparative studies with people on the island of Bali that measures future construction design thinking this culture can be projected and used as a cultural construction for the Dayak's new better culture based on humanity and speciesity in achieving the noble values of the ancestors of togetherness, welfare, and peace for Dayak locally and globally. © 2017 Komunitas Studi Kultural Indonesia. Diterbitkan oleh An1mage. All rights reserved. Abstract Peneliti koresponden: www.an1mage.org An1mage Education Division dari Dayak Djongkang, Jangkang, Sanggau, Kalimantan Barat Mobile: +62818966667 E-mail: michael.sega.gumelar@gmail.com