BAHASA, TUBUH, DAN PARADIGMA PATRIARKI DALAM HUMOR KONTEMPORER INDONESIA Ferry Fauzi Hermawan, Dana Waskita, & Tri Sulistyaningtyas Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan FSRD, Institut Teknologi Bandung E-mail: fauziferry@gmail.com DOI: http://dx.doi.org/10.17509/bs_jpbsp.v17i1.6955 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi perempuan dalam humor Indonesia yang muncul melalui aplikasi percakapan whatsapp. Analisis ini dilandasi pemikiran Crawford (2003) dan Sen (2012) tentang hubungan gender, linguistik, dan humor. Dalam tulisan ini yang dikaji adalah penggunaan makna indeksial dan polisemi pada cerita humor dalam mengonstruksikan perempuan. Setelah dilakukan analisis, humor yang berkembang dalam media aplikasi percakapan whatsapp cenderung bersifat seksis dengan melanggengkan nilai-nilai patriarkis seperti menggambarkan perempuan sebagai sosok yang pasif dan pasrah. Ditinjau dari segi struktur sebagian besar humor menggunakan teknik ketidaksejajaran dalam upaya menimbulkan nilai humor di benak pembaca. Sebagian besar tokoh perempuan yang muncul berada dalam ruang privat atau domestik. Selain itu, data menunjukkan bahwa sebagian besar humor menggunakan bahasa polisemi iguratif, khususnya dalam menggambarkan aktivitas seksual. Dalam hal ini perempuan selalu diasosiasikan dengan benda- benda mati, seperti untuk menggambarkan aktivitas seksual maupun alat kelamin yang dimiliki oleh perempuan. Makna indeksial dari bahasa yang dipergunakan selalu didasarkan pada paradigma dan kepentingan laki-laki yang sejalan dengan nilai-nilai patriarkis. Hal ini pada akhirnya menimbulkan kekerasan simbolis pada perempuan. Kata kunci: humor, polisemi, kekerasan simbolik, perempuan LANGUAGE, BODY, AND PATRIARCHY PARADIGM IN INDONESIAN CONTEMPORARY HUMOUR Abstract This study aims to analyze the construction of women in Indonesia humors that appear through the application of whatsapp conversation. This analysis is based on the opinion of Crawford (2003) and Sen (2012) about gender relations, linguistics, and humors. The focus of the study is the use of indeksial meaning and polysemy in constructing a humorous story in women. After the analysis, it was found that humors developing in the application media of whatsapp conversation tended to perpetuate sexist patriarchal values such as portraying women as a highly compliant and passive. In terms of the structure, most of the humors used several techniques of misalignment to cause the value of humor in the reader’s mind. Most of the female igures appeared to be in the private or domestic space. In addition, the data show that most of the humors used igurative polysemy, especially in describing sexual activities. In this case, the women were always associated with inanimate objects, such as in describing sexual activities or woman genitals. The indeksial meanings of the language used were always based on the paradigm and the interests of men that are in line with patriarchal values. This eventually led to symbolic violence on women. Keywords: humors, polysemy, symbolic violence, women 29