Farabi ISSN 1907- 0993 E ISSN 2442-8264 Volume 13 Nomor 1 Juni 2016 Halaman 104 - 121 http://journal.iaingorontalo.ac.id/index.php/fa Filsafat Eksistensialisme dan Format Epistemologi Kajian Islam Oleh: Arfan Nusi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Email: arfan_nusi@yahoo.com Abstract Existentialism philosophy of looking at things based on the existence or how humans are in the world . Etymologically derived from the word existentialism copies, meaning outside, andand a meaningful existence stand or place , so widespread existence can be interpreted as a stand alone as himself as well as out of him .In general meaning , humans in existence it was aware that he was there and everything is determined by the existence he admits. Islam is not a religion of one-dimensional. Nor is religion based solely on human institutions and limited to the relationship between man and God. Up to understand it is not enough just to a single method .Rather it requires human freedom in view of other methods. Departing from these freedoms least epistemology format Islamic studies as a form of independence awoke thinking.Because, for freedom of thought is a study which occupies an important position . Islam in this case have a clear concept , universal and tested . Islam's relationship with the independence of thinking. Filsafat eksistensialisme memandang segala sesuatu berdasarkan eksistensinya atau bagaimana manusia berada dalam dunia. Secara etimologi eksistensialisme berasal dari kata eks yang artinya luar, dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya di tentukan oleh akunya. Islam bukan merupakan agama satu dimensi. Bukan pula agama yang semata-mata berdasarkan institusi manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dan Tuhan saja. Hingga untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan sebuah metode saja. Melainkan membutuhkan kebebasan manusia dalam melihat metode yang lain. Berangkat dari kebebasan tersebut setidaknya format epistemologi kajian Islam terbangun sebagai wujud kemerdekaan berfikir. Sebab, selama ini kemerdekaan berfikir merupakan kajian yang menempati posisi penting. Islam dalam hal ini memiliki konsep yang jelas, universal dan teruji. Hubungan Islam dengan 104