1 Nahdhatul Ulama: Bebas untuk Oportunis? Menelisik Kontestasi Politik pada Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Banyumas Periode 2008 dan 2013 Adek Risma Dedees, Rahmi Hasyfi Febrina, dan Bangun Udi Mustika Program Master Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM 2015 Abstrak: Nahdhatul Ulama sebagai organisasi keagamaan, lembaga intermediari yang berdiri sendiri sebagai perpanjang tangan antara masyarakat dan negara dilihat dan dicermati tidak melulu dalam perspektif mereduksi NU kedalam posisi sebagai sang oportunis dan „tak tahu malu‟. Lebih dari itu ialah mencoba mengembalikan NU sebagai organisasi keagamaan yang berorientasi kepada kepentingan dan kemaslahatan umat. Plin plan dukungan politik NU pada dua periode pilkada di Banyumas menjelaskan bahwa NU berpihak kepada kubu yang kira- kira mampu menjamin kemaslahatan umat kelaknya. Tak peduli dengan stigma „inkonsistensi‟ yang dilabelkan kepada NU. Tho, kesejahteraan dan kemaslahatan umat Islam di Banyumas jauh lebih penting dan utama dari sekadar dipuja sebagai organisasi „konsisten‟ dan „sportif‟ dalam kancah politik, jika memilih beroposisi dengan pemerintah. NU tak kenal oposisi, NU hanya konsisten berpegang pada ideologi keagamaan yang mengedepankan kepentingan dan kebutuhan para pengikutnya (umat). Jenis penelitian ini kualitatif- interpretatif. Metode yang dipakai ialah observasi, wawancara mendalam, serta dengan memanfaatkan data-data sekunder atau dokumentasi yang ada. Kata kunci: Nahdhatul Ulama, nahdliyin, Pilkada, Banyumas Abstract: Nahdhatul Ulama as a religion organization, as independence intermediary organs which is helped the people to represent their interest between public affairs to the state. NU is not seen as opportunistic religion organization and a shamed organization cause of its ideology. More than, NU on politic arena, attempt to return as a religion organization which is has a greatest vission for making importance agenda and welfaring of the members of a religion community (umat) life. Unbalancing support of NU at two periods of head of province or district election in Banyumas region on 2008 and 2013 explained that NU stood up to the fortification which likely could guarantee of NU‟s interest. It does not care about „inconsistence‟ stigma which is marked to NU. Thus, welfaring and interest of umat are more importance than just having adoration as „consistence‟ and „sportive‟ religion organization in Banyumas, generally in politic arena. This research is qualitative-interpretative approach. The method is used observation, indeep interview and also utilizing secunder data and documentation matters. Keywords: Nahdhatul Ulama, nahdliyin, Pilkada, Banyumas