RAHEEMA: Jurnal Studi Gender dan Anak 53 - 56 - PENDIDIKAN AGAMA DAN KEKERASAN PADA ANAK (CHILD ABUSE) PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM Muhamad Tisna Nugraha Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pontianak Email: tisnanugraha2014@yahoo.com ABSTRACT The case of violences in education is often seen in Indonesia. The education institution should appropriately be the place to create the real mankind. Furthermore, it also prepares the smart generation, emotionally and spiritually. Despite it is not always a core of student development. Moreover, the abuse acts always happening are the indicator that the education process is still far from humanity values. Education, furthermore, is not only the obligation of spiritual dedication, especially for Moslem man and woman, but also as a place that should produce the scholars. Besides, they are prepared for accomplishing the humanity problems, for instance, poverty, idiocy, suppression, and terrorism. Therefore, education contributes to prevent and reduce conflict. Then, it is also designed specifically to counter violences. Overall, a concept of effective education of applying the study method absorbed by religious and cultural values. Keywords: Religious, Education, Children, Abuse PENDAHULUAN Kekerasan dalam pendidikan bukanlah merupakan hal yang baru. Sebuah prakarsa yang mengedepankan pencapaian hasil maksimal melalui segala upaya atas nama kebenaran ilmu pengetahuan. Ini adalah suatu tujuan yang sangat mulia, tetapi disisi lain mengenyampingkan sisi kemanusian dan budaya ketimuran. Masih ingat dalam benak kita, peristiwa kekerasan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang dilakukan senior tehadap junior di tahun 2003 yang menewasakan Wahyu Hidayat dan seorang praja lainnya yang bernama Cliff Muntu di tahun 2007. Tidak hanya IPDN, di tahun 2014 kasus kekerasan juga ikut merengut nyawa Dimas Dikita Handoko salah seorang siswa di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Disusul lagi dengan kasus seksual terhadap siswa Taman Kanak-Kanak di sekolah bertaraf internasional Jakarta International School (JIS) tahun 2014. Berbagai kasus-kasus tersebut semakin menambah panjang daftar jumlah korban yang yang berjatuhan dalam lembaga kependidikan, dan hal ini seakan mengindikasikan bahwa dunia pendidikan di tanah air telah menebar teror bagi anak didiknya sendiri. Memang, situasi di Indonesia saat ini belum separah seperti yang dialami negara-negara yang sedang menghadapi konflik di Timur Tengah, diantaranya Palestina, Suriah, dan Irak. Anak- anak di daerah tersebut seperti telah dilatih untuk mengenal senjata dan berhadapan dengan maut setiap harinya. Bahkan di wilayah tertentu pernah tercatat pada tahun 1991, pemberontakan Sierra Leone, Afrika telah memaksa anak-anak mereka menjadi tentara yang kejam terhadap warga sipil setelah terlebih dahulu mereka menyaksikan orangtuanya dibunuh.