Folklore: Definisi & Esensinya Folklore adalah kumpulan budaya ekspresif yang dimiliki oleh sekelompok orang tertentu. Ini mencakup tradisi yang sama dengan budaya, subkultur atau kelompok tersebut. Ini termasuk tradisi lisan seperti dongeng, ungkapan dan lelucon. Mereka termasuk budaya material, mulai dari gaya bangunan tradisional hingga mainan buatan tangan yang umum dilakukan kelompok ini. Cerita rakyat juga mencakup pengetahuan adat, bentuk dan ritual perayaan seperti Natal dan pernikahan, tarian rakyat dan ritus inisiasi. Masing-masing, baik secara tunggal atau kombinasi, dianggap sebagai artefak cerita rakyat. Sama pentingnya dengan bentuknya, Folklore juga mencakup transmisi artefak ini dari satu wilayah ke daerah lain atau dari satu generasi ke generasi berikutnya. Folklore yang baerasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore. Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dunles adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Ciri- ciri pengenal fisik itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu suatu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun sedikitnya dua generasi yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Di samping itu bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka. Jadi folk adalah sinonim dari kolektif, yang juga memiliki cirri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Lore adalah tradisi folk, yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun- temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat Bantu pengingat. Definisi folklore secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat. 1 Folklore mulai membedakan diri sebagai disiplin sendiri selama periode nasionalisme romantisisme di Eropa. Tokoh dalam perkembangan ini adalah Johann Gottfried von Herder, 1 Sibarani, Robert dalam Folklore Sebagai Media Dan Sumber Pendidikan: Sebuah Ancangan Kurikulum Dalam Pembentukan Karakter Siswa Berbasis Nilai Budaya Batak Toba hlm.2