26 ITB J. Vis. Art. Vo l. 1 D, No . 1, 2007, 26-37 Representasi Identitas di Medan Pasar Seni Lukis Indonesia Djuli Djatiprambudi Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya Abstrak. Since the middle of 1980s, Indonesian arts show striking growth, due to the dynamic appearance of painting market which was often referred as the boom of paintings. This phenomenon is triggered by the change of social- political-economical conditions of Asia, which are also influencing the infrastructure and suprastructure changes of the social-politics-and economy of Indonesia. It leads to the dialectical rise of the class of economical elite in Indonesia, which is dominated by the Chinese ethnic group. This group, which was politically pressurized during New Order regime, has built a tantalous room in economy. Their involvement in the arts market can bee seen as the starting point to comprehend the economical-capitalism of Indonesian Arts. It is expected that by constructing the role of Chinese ethnic group in art market, we will obtain a complete understandings of the social history of arts in Indonesia. Keywords: identity; boom of painting. 1 Pengantar Sejak dekade 1990an terdapat dua gejala yang menonjol di dunia seni rupa Indonesia. Gejala pertama, berupa praktik pewacanaan, dan gejala kedua berupa praktik penaksiran. Gejala pertama memperlihatkan gejala internasionalisasi seni rupa dengan beragam eksplorasi estetis di dalam berbagai pameran berskala nasional maupun internasional. Gejala kedua memperlihatkan praktik pasar yang tampak begitu dominan dengan nilai perputaran kapital triliunan rupiah pertahun. Namun, kedua gejala tersebut satu sama lain memperlihatkan gejala yang tidak saling terkait. Di satu sisi, seni rupa dipahami dalam bingkai teoritik dan ideologi seni yang menyertainya. Di sisi lain, seni rupa dipahami dalam bingkai ekonomi dan berbasis pada ideologi pasar. Tulisan ini akan menjelaskan gejala kedua tersebut dengan difokuskan pada politik representasi oleh kelas sosial yang menguasai pranata ekonomi sebagai upaya membangun identitasnya. Pembacaan gejala ini penting mengingat selama ini sejarah seni rupa Indonesia lebih banyak dipahami melalui jalur ketokohan seorang seniman, dan seputar kekhasan estetis, ketajaman tematik, dan kekuatan teknik ungkapnya. Kajiannya lebih terarah pada persoalan intrinsik. Sementara, kajian yang mengarah pada Received December 21 st 2006, Revised February 2 nd 2007, Accepted for publication March 5 th 2007.