1 Mencari ‘Gerakan Sosial Islam’ Transformatif David Efendi Pengajar di Magister Ilmu Pemerintahan UMY Pegiat Literasi di Rumah Baca Komunitas “…tak ada penemuan manusia yang lebih menganggu pikiran lebih dari penemuan mengenai sejarah ide-ide.” —Lord Acton, Filosof Politik “If you want knowledge, you must take part in the practice of changing reality.” —Mao Tse Tung, 1937b Gerry van Klinken (2014) dalam bukunya The Making of Middle Indonesia: Middle Classes in Kupang Town, 1930s-1980s mengajukan pertanyaan: What holds Indonesia together? yang mendorong kesadaran baru intelektual Indonesia untuk berfikir dan berani menjawab pertanyaan tersebut secara tepat dan akurat. Klinken memberikan argumentasi tentang peranan kelas menengah di kota menengah di propinsi yang jumlahnya sangat siginifikan. Memberikan kredit peran kelas menengah sebagai ‘pilar’ demokrasi ala TB Bottormore tentu saja bukan hal yang tidak masuk akal. Ada penerimaan luas, bahwa kelas menengah sangat terbuka dan compatible terhadap nilai-nilai demokratis. Peran kelas menengah di kota menengah setidaknya meliputi tiga hal utama yang disampaikan Klinken yang patut di simak. Pertama, adanya fenomena indonesianisasi sejak awal telah mendorong keberadaan kelas