621 Dampak manajemen pakan dari kegiatan budidaya ... (Erlania) ABSTRAK Terjadinya kasus kematian ikan di Danau Maninjau pada Desember 2008 lalu menimbulkan berbagai pertanyaan dari berbagai pihak tentang faktor yang menjadi penyebab terjadinya musibah tersebut. Dalam hal ini sektor perikanan merupakan pihak yang dituding sebagai sumber masalah yang menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan perairan Danau Maninjau. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi manajemen budidaya KJA yang dilakukan masyarakat saat ini, khususnya manajemen pakan. Koleksi data meliputi data kualitas air yang terdiri atas suhu, pH, TDS, kecerahan, kekeruhan, DO, BOD 5 , NH 3 , NO 2 , NO 3 , total nitrogen, ortofosfat, total fosfat dan H 2 S, serta data status kegiatan budidaya melalui wawancara langsung dengan 6 kelompok pembudidaya yang mewakili sentra-sentra budidaya di danau maninjau. Analisis kualitas air dilakukan secara in situ dan ex situ (laboratorium). Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi kualitas perairan Danau Maninjau secara umum masih baik dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan, namun terdapat beberapa parameter yang perlu menjadi perhatian untuk menjaga keberlanjutan usaha budidaya masyarakat sekitar Danau Maninjau. Manajemen pakan yang baik dan benar perlu diterapkan untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas lingkungan perairan Danau Maninjau. KATA KUNCI: manajemen pakan, keramba jaring apung (KJA), Danau Maninjau, kualitas perairan PENDAHULUAN Kasus kematian massal ikan-ikan budidaya di Danau Maninjau akibat terjadinya fenomena up- welling pada akhir Desember 2008 hingga awal 2009, menimbulkan pertanyaan dan menjadi sorotan berbagai pihak. Dalam hal ini sektor perikanan khususnya perikanan budidaya dianggap sebagai trouble maker yang menyebabkan degradasi kualitas perairan Danau Maninjau, sehingga berujung pada terjadinya musibah kematian ikan tersebut. Walaupun belum dibuktikan secara ilmiah, namun hal ini merupakan tantangan bagi pelaku budidaya untuk dapat menerapkan teknologi budidaya dengan meminimalisir limbah, terutama limbah yang berasal dari sisa pakan ikan. Secara umum tantangan yang berhubungan dengan sistem budidaya KJA di antaranya yaitu peningkatan kandungan nutrien di perairan yang berasal dari sisa pakan yang tidak termakan, ekskresi dan feses ikan, serta kemungkinan dampak yang ditimbulkan terhadap kualitas perairan, lingkungan dan kondisi kesehatan ekosistem (Mente et al., 2006; León, 2006 dalam Halwart et al., 2007). Menurut Kartamiharja (1988) dalam Prihadi (2005), pada kegiatan budidaya KJA yang dilakukan di waduk yang berada di Jawa Barat teridentifikasi bahwa pakan yang terbuang ke perairan mencapai 30%– 40%. Selain itu, sistem budidaya intensif di KJA juga menarik perhatian publik terkait dengan keberlanjutan kondisi ekologi dan lingkungan perairan jangka panjang (Goodland, 1997 in Halwart et al., 2007). Pengembangan usaha budidaya ikan secara intensif dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti kualitas perairan atau lingkungan budidaya, kualitas benih dan kualitas pakan. Pakan merupakan faktor produksi yang menjadi komponen biaya terbesar dalam suatu usaha budidaya ikan. Menurut Alava (2002), dalam pengelolaan atau manajemen pakan pada kegiatan budidaya ikan perlu dilakukan beberapa hal yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan budidaya itu sendiri, di antaranya yaitu sampling dan pencatatan data secara teratur, ransum pakan (dosis pakan harian, frekuensi dan waktu pemberian pakan), ukuran partikel pakan, metode aplikasi pakan, dan kualitas air. Sedangkan Azwar et al. (2004) menyebutkan bahwa aspek manajemen pakan yang perlu diperhatikan terkait dengan mutu lingkungan di antaranya yaitu kualitas pakan, tipe pakan, dan frekuensi pemberian pakan. DAMPAK MANAJEMEN PAKAN DARI KEGIATAN BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI KERAMBA JARING APUNG TERHADAP KUALITAS PERAIRAN DANAU MANINJAU Erlania, Rusmaedi, Anjang Bangun Prasetio, dan Joni Haryadi Pusat Riset Perikanan Budidaya Jl. Ragunan 20 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540 E-mail: erlania_elleen@yahoo.com