A. PENDAHULUAN Jepang terdiri atas empat pulau besar yaitu Hondo, Hokaido, Shikoku dan Kyusu beserta pulau kecil lainnya. Penduduk kepulauan itu sepanjang arkeologi dan antropologi, erat berkaitan dengan suku tunggus dan suku Korea berdasarkan pembuktian linguistic, sepanjang pembuktian etnografis dan mithologis terpadu kedalam unsur belahan selatan Tiongkok beserta unsur melayu dari asia tenggara dan unsur polinesia, pada masa sebelumnya unsur Ainu banyak mendominasi. Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa Jepang telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang. Bahkan nama Shinto sendiri merupakan bentuk akulturasi budaya antara Jepang dengan Tiongkok adalah perubahan nama agama mereka yakni dari “Kami No Michi” yang artinya jalan dewa” kemudian setelah terjadi benturan budaya antara Tiongkok dan Jepang berubah nama menjadi agama Shinto yang artinya “jalan langit” Agama Shinto yang berkembang di Jepang Merupakan salah satu agama Yang mempunyai mitos bahwa bumi di Jepang merupakan ciptaan dewata yang pertama, dan bahwa Jimmi Tenno (660 SM) adalah turunan langsung dari Amiterasu Omi Kami yakni dewi matahari dalam perkawinannya dengan Tsukiyomi yakni dewa bulan. . 1