Mome ntum, Vol. 8, No. 1, April 2012 : 21- 27 ft-UNWAHAS 21 H. Mulyani, S. B. Sasongko, D. Soetrisnanto Magister Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang Jl Prof Sudarto SH Tembalang PENGARUH PREKLORINASI TERHADAP PROSES START UP PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAPIOKA SISTEM ANAEROBIC BAFFLED REACTOR Tingginya kandungan sianida dalam limbah cair tapioka ditengarai dapat menjadi inhibitor bagi proses pengolahan biologi. Keberadaan sianida dapat mengakibatkan lebih lamanya waktu start up diperlukan untuk memperoleh kultur bakteri dalam reaktor anaerob yang dapat bekerja stabil menurunkan kadar polutan dan memperlambat proses dekomposisi senyawa organik. Kajian mengenai pengaruh preklorinasi fresh feed terhadap proses start up operasi Anaerobic Baffled Reactor 2 baffle perlu dilakukan. Penelitian ini terbagi menjadi 3 tahapan utama yaitu inokulasi benih lumpur, preklorinasi fresh feed dan operasi start up secara batch sampai tercapai kadar COD efluen yang stabil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair tapioka dengan COD influen 8000 mg/L dan pH 4,84 memerlukan 9 hari start up dengan COD efluen 954 mg/L. Peningkatan pH influen menjadi 8 mampu menghasilkan kadar COD efluen 347 mg/L dalam 6 hari start up. Preklorinasi terhadap fresh feed dengan penambahan kalsium hipoklorit berdasar perbandingan rasio mol klor dan sianida sebesar 1:1 dapat mengurangi waktu start up hingga hanya menjadi 5 hari dan menurunnya COD efluen hingga mencapai kadar 230 mg/L. Kata kunci: Tapioca wastewater; Anaerobic Baffled Reactor; start up; prechlorination PENDAHULUAN Air limbah proses ekstraksi pati industri tapioka mengandung 5000-20000 mg/L Biologycal Oxygen Demand (BOD) terlarut (Sofyan dkk., 1994) dengan rasio BOD/COD 0,6-0,8 (Seejuhn, 2002). Kadar sianida (CN - ) 10-40 mg/L juga dapat dihasilkan industri tapioka berkapasitas produksi 400 ton ubi kayu (Mai, 2006). Sistem Anaerobic Baffled Reactor (ABR) merupakan suatu metode anaerob laju tinggi yang efektif digunakan sebagai pengolahan pendahuluan air limbah berkadar BOD dan Chemical Oxygen Demand (COD) tinggi dengan adanya rangkaian baffle vertikal yang dapat memaksa terjadinya kontak antara limbah dan biomass aktif dan mengurangi kemungkinan wash out (Movahedyan et al., 2007; Seejuhn, 2002). Namun, kelemahan umum metode anaerob yaitu lambatnya laju pertumbuhan mikroorganisme (Ahmad dkk., 2000) akibat tingginya sensitivitas bakteri terhadap senyawa toksik yang dapat berakibat pada lamanya waktu start up (Seghezzo, 2004) masih dapat ditemui. Laju hidrolisis pun dapat menurun dengan bertambahnya kadar sianida influen (Mai, 2006). Untuk mengatasi kelemahan sistem, usaha perbaikan performa start up merupakan hal krusial yang harus dilakukan (Ahmad dkk., 2000). Ini diperlukan sebab keberhasilan bioreaktor anaerob menurunkan kadar polutan limbah cair akan tergantung kepada kemampuan proses start up untuk mengembangbiakkan kultur mikroorganisme stabil yang mampu mengolah suatu karakter air limbah dengan baik (Bell et al., 2000). Hal yang perlu diperhatikan dalam proses start up sistem anaerob adalah bahwa keberadaan senyawa toksik dalam limbah dapat mengakibatkan tidak tercapainya fase stasioner (Olafadehan and Alabi, 2009) dan melambatnya penguraian organik (Foxon et al., 2007). Kajian mengenai penurunan kadar CN - limbah cair tapioka telah banyak dilakukan. Riyanti dkk. (2010) menyebutkan bahwa klorinasi dengan dosis 5 mg Ca(OCl) 2 tiap 100 ml limbah pada kondisi terbaik yaitu pH 8 dan waktu kontak 1 jam dapat menghilangkan 89 % kadar COD dan menurunkan kadar sianida dari 51,77 mg/L menjadi 30,08 mg/L. Sementara Muktasimbillah (1997) menyatakan bahwa klorinasi dengan dosis 20 mg/L klor (Cl 2 ) pada pH 8 dapat menurunkan kadar CN - dari 2,48 mg/L menjadi 0,22 mg/L. Namun, pengaruh penurunan kadar CN - terhadap pengolahan sistem ABR belum pernah dikaji. Kajian lebih lanjut mengenai pengaruh preklorinasi fresh feed terhadap proses start up dan kualitas efluen pengolahan limbah cair tapioka sistem ABR perlu dilakukan. Dengan adanya