A. Pendahuluan Asumsi orang selama ini tentang pembangunan selalu tentang pembangunan gedung-gedung pencakar langit, menara tinggi yang menunjuk langit, jembatan layang yang bertingkat-tingkat, hingga pembangunan di kota-kota besar, dan lain sebagainya. Disamping pembangunan sebagaimana tersebut, ternyata pembangunan dihadapkan pada permasalahan- permasalahan meningkatnya kesenjangan antara Jawa dan Luar Jawa, antara Kawasan Barat dan Kawasan Timur Indonesia, serta antara Kota dan Desa. Pertumbuhan pembangunan yang tidak seimbang antara Kota Besar/Metropolitan dengan Kota Menengah dan Kota Kecil dengan pemusatan ekonomi di Pulau Jawa-Bali serta pertumbuhan kota-kota menengah dan kecil serta kawasan pedesaan yang berjalan lambat mengakibatkan berbagai kesenjangan tersebut. Di samping itu, kemampuan masing-masing daerah tidak merata dalam kapasitas kelembagaan, sumber daya aparatur, pengelolaan keuangan, dan kapasitas anggota legislatif. Untuk Indonesia, sebagaimana yang diharapkan oleh para founding father adalah pembangunan masyarakat yang adil dan makmur. Yang utama adalah pembangunan masyarakat (manusia), sedangkan pembangunan fisik hanyalah pertanda bahwa sebagian manusianya makmur. Satu hal yang harus menjadi pemikiran bersama, adilkah jika terdapat gedung- gedung pencakar langit, menara tinggi yang menunjuk langit, jembatan layang yang bertingkat-tingkat, hingga STRATEGI PEMBANGUNAN DESA TERPADU : SUATU PILIHAN PARADIGMA PEOPLE CENTERED DEVELOPMENT pembangunan di kota-kota besar, namun sebagian masyarakatnya masih menderita? Hal ini jangan sampai menjadi pembenaran terhadap apa yang disampaikan oleh Selo Sumarjan (dalam Ngusmanto, 2005:13), bahwa pembangunan menurut orang kecil/miskin adalah sebuah malapetaka dan mendamparkan hidup orang kecil. Jelaslah bahwa kasih sayang, kesejahteraan, kebahagiaan dan cinta tidak bisa dibeli, sebagaimana lagu The Beatles : “Money can’t buy me love”. Secara sederhana, Pembangunan, menurut literatur- literatur ekonomi pembangunan, sering didefinisikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan dari peningkatan pendapatan riil per kapita melalui peningkatan jumlah dan produktivitas sumber daya. (Afiffuddin, 2010:67). Apakah definisi seperti ini sudah cukup, karena bagaimanapun juga belum memenuhi keinginan sebagaimana penjelasan sebelumnya. Oleh karena itu penulis kutipkan pendapat lain mengenai pembangunan. Pembangunan Menurut Siagian (1995:2-3 & 2005:4), “rangkaian usaha mewujudkan pertumbuhan dan perubahan secara terencana & dilakukan secara sadar yang ditempuh oleh suatu negara, bangsa & pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building)”. Dari pendapat tersebut jelas bahwa pembangunan haruslah dilakukan secara terencana dan mencakup segala segi kehidupan dan penghidupan bangsa dan negara dengan membuat program-program yang sesuai dengan keinginan masyarakat disesuaikan dengan skala prioritas. Oleh : Agus Hendrayady Dosen Ilmu Administrasi Negara dan Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji Abstract Development in Indonesia has long begun, since the Soekarno-Hatta proclaimed the repub- lic until the present time which we are familiar with the reform area. But to keep in mind that the development which has been implemented by the government, perceived by the public not to touch or no taxable wearing or in accordance with what is actually desired by the community. Keywords : Development, community, people centered development paradigm.