Mengenai al-Ahwal Ahwal adalah bentuk jama’ dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental atau mental states yang di alami para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. Ibnu Arabi menyebutkan hal sebagai sifat yang dimiliki seorang salik pada suata waktu dan tidak pada waktu yang lain,seperti kemabukkan dan fana. Eksisitensinya bergantung pada sebuah kondisi, ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hal tidak dapat dilihat dan di pahami tetapi dapat dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karena nya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata. Ahwal sering di peroleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hal adalah anugerah. Beberapa ulama mengatakan bahwa hal adalah sesuatu yang tidak diam dan tidak mengikat atau dinamis. Al-Ghazali yang memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan menetap dalam suatu maqom ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu dan itulah hal. Mengenai hal ini, ia juga memberi contoh tentang warna kuning yang dapat di bagi menjadi dua bagian, ada warna kuning yang tetap seperti warna kuning pada emas dan warna kuning yang dapat berubah seperti pada sakit kuning. Seperti itulah kondisi atau hal seseorang, kondisi atau sifat yang tetap di namakan maqom sedangkan yang sifatnya berubah dinamakan hal.menurut Syihabuddin rawardi seseorang tidak mungkin naik ke maqom yang lebih tinggi sebelum memperbaikki maqom yang sebelumnya. Namun, sebelum beranjak naik dari maqom yang lebih tinggi turun lah hal yang dengan itu maqom nya menjadi kenyataan. Oleh karena itu, kenaikkan seorang salik dari satu maqom ke maqom berikutnya di sebabkan oleh kekuasaan Allah dan anugerah-Nya, bukan di sebabkan oleh usahanya sendiri. Hal terdiri dari beberapa macam, diantara macam-macam hal yaitu : muroqobah,khauf, roja’, syauq, mahabbah, tuma’ninah, musyahadah, yaqin. Al-Muraqabah Muraqabah merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Karena dengan muraqabah inilah, seseorang dapat menjalankan ketaatan kepada Allah SWT dimanapun ia berada, hingga mampu mengantarkannya pada derajat seorang mu’min sejati. Demikian pula sebaliknya, tanpa adanya sikap seperti ini, akan membawa seseorang pada jurang kemaksiatan kepada Allah kendatipun ilmu dan kedudukan yang dimilikinya. Inilah urgensi sikap muraqabah dalam kehidupan muslim. Pernah suatu ketika, seorang istri yang lama ditinggal pergi suaminya; bersya’ir pada tengah malam, yang kebetulan di dengar oleh Umar bin Khatab ra. Ia mengutarakan kegundahan hatinya yang ‘kesepian’ karena tiada suami yang mendampinginya. Ia mengatakan: ذا السرير جوانبه لحرك من ه تخشى عواقبه لوعبه فويل ا خل وأرقني أاسوديل ول هذا القد طال لSungguh terasa teramat panjangnya malam ini, juga teramat sunyi. Lebih membuatku gundah lagi, tiada suami yang mencumbuiku. Namun demi Allah, sekiranya bukan karena takut terhadap Allah. Pasti ranjang ini telah bergetar karena kemaksiatan.