4.1 Tonggak Sejarah Pewayangan Jawa Dari perspektif tradisi, wayang dikatakan merupakan hasil karya para wali. Konsep tersebut termuat dalam cerita-cerita legenda Jawa dalam upaya memasyrakatkan agama Islam di tengah-tengah rakyat yang telah akrab dengan kehidupan agama dan kebudayaan Hindu-Budha. Di pihak lain, dengan melihat materi wayang, terutama aspek cerita yang didominasi oleh budaya Hindu, tumbuh anggapan bahwa wayang pada hakikatnya merupakan produk budaya Hindu yang berasal dari India. Sementara itu data dan fakta ilmiah akademik dengan mempertimbangkan aspek bahasa dan asal-usul kata, wayang dianggap produk Jawa asli yang muncul jauh sebelum Islam dan Hindu datang dan berpengaruh di Jawa (Poerbatjaraka, 1952). Dalam konteks ini wayang dikaitkan dengan upaya atau aktivitas pemujaan terhadap nenek moyang dengan dilatari kepercayaan animisme dan dinamisme. Pigeaud (1967) mengungkapkan bahwa peran para wali sebagaimana dikemukakan pandangan tradisi dapat dikombinasikan dengan pendapat ilmiah tentang hal yang sama. Kombinasi itu dijadikan dasar asumsi bahwa pada awal perkembangan Islam di Jawa, semua mitos dan kepercayaan animistis, termasuk seni pertunjukan wayang, pada masa pra Islam yang semula dianggap sakral, kemudian dipopulerkan para wali menjadi seni profan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan Islam. Wayang menjadi sarana komunikasi yang efektif bagi pengembangan agama dan dan sikap budaya Islami sehingga pada akhirnya muncul mitos penciptaan wayang oleh para wali. Proses Islamisasi wayang dan aspek budaya lain tentu saja tidak harus meninggalkan atau mengesampingkan sama sekali aspek-aspek lama yang bersumber India-Hindu ataupun warna-wana animistik yang pernah akrab dengan masyarakat Jawa. Dalam konteks ini, terjadi akulturasi budaya, yakni budaya lama yang bercorak animis ataupun Hinduistik berkembang ke arah budaya baru yang mengisyaratkan nuansa keislaman meskipun di sana-sini masih kental dengan nilai-nilai yang digantikan. Kebijakan kompromistis para wali dalam