12 Murid Yesus Dan Akhir Hidup Mereka Ketika Tuhan Yesus ada di dunia ini, Ia memilih 12 murid yang selalu bersama-sama dengan Dia. Ia mengajar mereka tentang Kerajaan Sorga dan melibatkan mereka dalam pelayananNya selama 3,5 tahun di dunia ini. Ia mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin-pemimpin gereja di kemudian hari, ketika kelak Ia telah naik ke Sorga. Karena itu, mempelajari kehidupan 12 murid Tuhan Yesus adalah sesuatu yang sangat menarik, termasuk kisah pelayanan dan kematian mereka yang kebanyakan tidak dicatat di Alkitab, tetapi kita dapatkan dari tulisan bapa-bapa gereja dan tradisi gereja turun-temurun. Berikut kisah kehidupan kedua belas murid Tuhan 1. Petrus Petrus adalah murid Tuhan Yesus yang paling banyak disebutkan di Alkitab, dan menjadi pemimpin dan “juru bicara” tidak resmi dari murid-muridNya yang lain. Nama asli Petrus adalah Simeon, nama Aram yang berasal dari kata Shim’on, yang artinya, “mendengar”. Bentuk Yunani Simeon adalah Simon. Ia pertama kali diperkenalkan oleh Andreas, saudaranya, kepada Tuhan Yesus. Kemudian, ia dipanggil menjadi murid ketika ia sedang menjala ikan (Matius 4:18-19). Tuhan Yesus memberi Petrus nama baru, Kepha atau Kefas, dari bahasa Aram, yang dalam bahasa Yunani disebut Petros atau Petrus (Yohanes 1:41-42). Kefas dan Petrus mempunyai arti yang sama, yakni “batu karang”. Pemberian nama baru ini menyiratkan pribadi dan kepemimpinan Petrus atas murid-murid lain dan atas gerejaNya kelak, yang diteguhkanNya kembali di Kaisarea Filipi (Matius 16:15-19). Petrus adalah salah satu murid terdekat Tuhan Yesus, bersama Yakobus dan Yohanes. Mereka bertiga sering Ia libatkan dalam peristiwa-peristiwa penting, tanpa kehadiran sembilan murid lainnya. Misalnya, ketika Ia dimuliakan di atas gunung dan ketika Ia berdoa di Getsemani. Sebenarnya Petrus adalah seorang yang latah, cepat bertindak, tanpa berpikir terlebih dahulu. Puncak “kelatahan” Petrus adalah ketika ia bersumpah dengan tegas di hadapan Tuhan Yesus bahwa ia bersedia mati bersamaNya; tetapi ketika Tuhan Yesus ditangkap, ia menyangkalNya sebanyak tiga kali. Namun, setelah kebangkitanNya, Petrus dikunjungi secara khusus oleh Tuhan Yesus (Lukas 24:34). Kemudian Ia memulihkan kembali panggilan Petrus dan memberinya tugas untuk menggembalakan domba-dombaNya (Yohanes 21:15-19). Kepemimpinan Petrus atas murid-murid lain dan gereja mula-mula semakin nyata ketika Tuhan Yesus telah naik ke Sorga. Petruslah yang memimpin 120 orang murid yang berdoa menantikan turunnya Roh Kudus, dan yang berinisiatif untuk memilih pengganti Yudas Iskariot yang berkhianat (Kisah Para Rasul 1:12-22). Dan ketika terjadi pencurahan Roh Kudus pada Hari Pentakosta, dialah yang tampil berkhotbah di hadapan orang-orang Yahudi sehingga 3000 orang bertobat (Kisah Para Rasul 2:14-40). Dialah juga yang memegang otoritas untuk mendisiplin jemaat (Kisah Para Rasul 5:1-11). Petrus juga yang memimpin para rasul dalam pemberitaan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi (Kisah Para Rasul 3:11-26). Dan ketika Samaria menerima Injil, maka Petruslah, bersama Yohanes, yang pergi ke sana. Walaupun Petrus lebih dikenal sebagai rasul bagi orang-orang Yahudi (Galatia 2:7-9), namun Dialah yang pertama kali diutus Tuhan untuk memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi (Kisah Para Rasul 10:1-48). Pada sidang para pemimpin gereja di Yerusalem, Petruslah yang pertama mendesak agar gereja menerima orang-orang non-Yahudi hanya melalui iman kepada Yesus Kristus, tanpa perlu disunat terlebih dahulu (Kisah Para Rasul 15:6-11). Petrus sering melakukan pelayanan ke kota-kota lain di luar Yerusalem. Ia pergi ke Lida dan Yope (Kisah Para Rasul 9:32-43), Antiokhia (Galatia 2:11) dan mungkin ke Korintus (1 Korintus 1:12). Hampir bisa dipastikan bahwa Petrus juga pergi ke kota Roma, pusat kekaisaran Romawi. Dan tradisi mengatakan bahwa di kota Roma-lah ia meninggal bersama Paulus, pada masa penganiayaan Kaisar Nero. Dikatakan bahwa ia disalibkan secara terbalik dengan kepala di bawah, atas permintaannya sendiri. Sebab ia merasa tidak layak disalibkan dengan kepala di atas, seperti gurunya, Tuhan Yesus. Kuat dugaan bahwa makam Petrus terdapat di dasar gedung gereja Basilika di kota Roma (Vatikan), gereja terbesar di dunia. Petrus meninggalkan warisan berupa Kitab Suci, yakni surat 1 Petrus dan 2 Petrus, yang diduga kuat ditulisnya dari kota Roma. Selain itu, menurut tradisi dan penelitian para pakar Alkitab, pengaruh Petrus juga sangat kuat di dalam penulisan kitab Injil Markus.