Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 Vol. 1 No. 1, Hal. 616-621 http://semnastafis.unimed.ac.id ISSN: 2598-3237 (media cetak) ISSN: 2598-2796 (media online) 616 MENUMBUHKAN RASA CINTA TANAH AIR MELALUI PENGEMBANGAN EKOPESANTREN Izzatul Mardhiah, Rihlah Nur Aulia Universitas Negeri Jakarta Corresponding Author: izzatul-mardhiah@unj.ac.id Abstrak Rasa cinta tanah air di kalangan anak bangsa semakin hari kian pudar, tidak hanya pada indentitas diri, namun juga pada sikap dan tingkah laku yang tidak lagi menggambarkan kesetiaan dalam merawat alam dan bumi pertiwi. Perwujudan cinta tanah air yang terkikis oleh keserakahan manusia dalam memanfaatkan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki mengakibatkan ketidakpedulian dalam merawat dan melestarikan alam fisik Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah melalui lembaga pendidikan merupakan tulang punggung dalam menumbuhkan karakter dan kesadaran generasi penerus bahwa bentuk kecintaan terhadap tanah air salah satunya diwujudkan dengan peduli terhadap lingkungan dan pelestarian alam. Adapun ekopesantren merupakan salah satu wadah untuk menumbuhkan rasa cinta alam fisik Indonesia dengan menanamkan cara fikir, sikap dan tingkah laku yang menggambarkan kesetiaan, kepeduliaan dan penghargaan terhadap lingkungan hidup dan alam Indonesia. Kata Kunci: cinta tanah air, peduli lingkungan, ekopesantren. Pendahuluan Rasa cinta tanah air dan peduli lingkungan merupakan dua nilai yang ditanamkan dalam pendidikan karakter bangsa. Secara bersamaan, peduli dan pelestarian lingkungan merupakan aksi nyata dari sikap cinta tanah air. Dalam konteks Indonesia saat ini, integrasi dua nilai ini penting diperkuat karena di samping rasa nasionalisme yang kian tergerus dalam diri anak bangsa, kerusakan lingkungan ulah tangan yang tak bertanggung jawab adalah gambaran rasa cinta tanah air yang kian pudar. Penanaman nilai-nilai cinta tanah air tidak akan optimal terwujud tanpa disertai aksi dan tindakan nyata dari sistem pendidikan yang melibatkan tidak hanya ranah kognitif, melainkan juga optimalisasi aspek afektif dan psikomotorik. Selama ini, pendidikan karakter dan penanaman rasa cinta tanah air secara formal diajarkan di sekolah- sekolah melalui mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama. Beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka juga berperan dalam menanamkan nilai-nilai tersebut. Namun agaknya, tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini terlalu besar sehingga upaya penanaman nilai-nilai tersebut berjalan tidak optimal. Di samping itu, kerusakan lingkungan dan bencana alam yang dialami oleh negeri ini, sebagian karena ulah tangan manusia yang tak bertanggung jawab dan tidak sama sekali menunjukkan rasa cinta tanah air. Perbuatan negatif yang mengarah kepada pengrusakan dan ketidakpedulian lingkungan alam melanda hampir semua kalangan tidak terkecuali anak-anak dan kalangan remaja sebagai generasi penerus. Jika pendidikan tidak mampu membenahi kondisi ini, dapat dibayangkan masa depan lingkungan alam Indonesia nanti. Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan klasik yang mengandalkan penanaman moral berbasis agama Islam. Pola pendidikan pesantren adalah pembinaan karakter peserta didik berbasis asrama. Pola pembinaan yang dapat memantau perkembangan prilaku keseharian santri menjadikan peran pesantren sangat strategis dalam menanamkan rasa cinta tanah air dan menumbuhkan prilaku cinta dan peduli akan lingkungan alam anah air. Saat ini, beberapa pesantren mulai mengembangkan program kepedulian akan pelestarian lingkungan dengan menerapkan pengelolaan lingkungan yang baik, atau yang dikenal dengan ekopesantren. Tulisan ini akan mengelaborasi bagaimana penanaman karakter peduli lingkungan alam di pesantren menjanjikan terwujudnya generasi pecinta tanah air yang peduli akan kelestarian lingkungan alam Indonesia .