Nama : Bima Agustina R. NIM : 15/389064/PSA/07918 Semiotika “Knockin’ on Heaven’s Door” dalam Semiotika Riffaterre Puisi menurut Riffaterre menyatakan satu hal dan bermakna lain. Sebuah puisi mengungkapkan gagasan, suasana atau apapun melalui ketidaklangsungan ekspresi puitis atau ketidaklangsungan semantis. Pada dua larik awal pada bait pertama pada lagu ini diawali dengan kutipan yang menggambarkan Aku yang merupakan ‘orang pertama tunggal’, manusia, tidak diketahui laki-laki atau perempuan, meminta Mama untuk untuk melepas lencana karena si Aku tidak bisa lagi menggunakannya. Disini bisa dibayangkan bahwa Aku terlalu lelah untuk melepas sendiri lencananya hingga ia meminta bantuan dari orang lain yaitu Mama. Hal ini semakin diperkuat dengan dua larik berikutnya bagi si Aku yang berpikir bahwa keadaan sekitarnya menggelap sehingga sulit baginya untuk melihat. Pada keadaan ini si Aku merasa akan mengetuk pintu surga. Ketidaklangsungan makna ekspresi puitis dalam bait pertama bisa dilihat pada penggantian makna dalam kata badge/lencana yang merupakan sebuah metonimi dari seragam. Seragam bisa juga dimaknai sebagai tanggung jawab. Hal itu juga terlihat pada peciptaan makna melalui aliterasi yang ada pada kata dark dan too dark di lirik ketiga , serta rima pada kata me di larik pertama dengan see di larik ketiga dan more di larik kedua dengan door di larik keempat. Ketidaklangsungan ekspresi puitis melalui cara yang lain yaitu distorsi makna yang terjadi pada larik keempat. Distorsi terjadi pada kalimat I feel like I’m knockin’ on heaven’s door karena kalimat ini mempunyai ambiguitas. Selain simile yang ditandai dengan kata feel like, knocking on heaven’s door sendiri mempunyai gambaran-gambaran menumpuk, kata knock membuat heaven’s door menjadi sesuatu yang solid layaknya pintu biasa dari tempat bernama heaven padahal heaven’s door juga merupakan metafora dari pengampunan bisa juga merupakan gambaran surge atau kebahagiaan abadi. Larik-larik ini jika dibaca secara berkesinambungan mempunyai makna bahwa seseorang yang berseragam ini tidak bisa lagi memikul tanggung jawabnya dan mengharap dalam suasana yang khidmat atas apa yang selama ini telah dilakukannya membuatnya optimis untuk mendapatkan kebahagiaan abadi. Bait kedua menyajikan suasana imajiner adanya peristiwa pengetukan pintu surga. Transformasi dari mimesis kepada semiosis terjadi melalui penciptaan makna yaitu aliterasi kata knock pada larik pertama hingga tiga kali menggambarkan intensitas yang tinggi dalam peristiwa itu. Kalimat knock, knock, knocking on heaven’s door diulang di sepanjang bait kedua. Pengulangan-pengulangan ini menegaskan pentingnya peristiwa ini dalam lagu “Knockin’ on Heaven’s Door”. Frase knockin’ on heaven’s door pada bait kedua merupakan pengulangan dari larik keempat pada baik pertama yang masih mengandung ambiguitas. Ditilik dari bait sebelumnya yaitu bait pertama, bait ini menghadirkan suatu gambaran tentang semangat dan pengharapan. Di bait ke 3 pola yang sama pada bait pertama kembali terlihat. Bait ketiga merupakan kutipan atas Aku meminta Mama untuk meletakkan senjata-senjatanya di atas tanah karena si Aku tidak bisa lagi menembakkannya. Saat awan hitam panjang mulai datang, si Aku merasa ia seakan mengetuk pintu surga. Ketidaklangsungan makna ekspresi puitis dalam bait ini pun menggunakan cara yang serupa dengan yang ada pada bait pertama. Ada penggantian makna pada kata guns yang merupakan senjata juga metafora dari wewenang, kekuatan, atau kekuasaan yang berelasi pada badge di larik pertama bait pertama. Bedanya di bait ketiga ini digunakannya kata shoot pada larik kedua yang berkonotasi negatif karena kata itu identik dengan kerusakan. The long black cloud pada larik ketiga bait ketiga berelasi dengan larik ketiga bait pertama, it’s getting dark, too dark for me to see. Awan hitam memberi suasana tambahan tidak hanya gelap tapi juga dingin. Peciptaan makna kembali terjadi seperti pada bait pertama melalui aliterasi yang ada pada kata ground di larik pertama dengan down di lirik ketiga , serta rima pada kata more di larik kedua dengan door di larik keempat yang membuat lagu ini bersajak abab. Dari suasana yang khidmat pada bait pertama dan suasana yang penuh harapan dan semangat, berubah menjadi getir pada bait ini. Bait ini memberi makna baru pada kata heaven’s door. Bukan lagi sebagai suatu kebahagiaan abadi, tetapi pengampunan. Suasana berubah menjadi Gelap, dingin, sepi karena semua hal yang dilakukan si Aku dan senjata-senjatanya dan ia mengharapkan pengampunan.