1 REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM KUMPULAN CERPEN “BH” KARYA EMHA AINUN NADJIB I Desak Putu Kurnia Surya Dewi 1) , I Dewa Ayu Sugiarica Joni 2) , I Gusti Agung Alit Suryawati 3) 1,2,3) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Email: dskdesak@gmail.com 1) , idajoni11@gmail.com 2) , igaalitsuryawati@yahoo.co.id 3) ABSTRACT Gender inequality is manifested in various forms, such as stereotyping or negative labelling. Stereotypes of women who are weak, emotional, identical to domestic sphere are considered normal and natural. This is constructed by the mass media, so it can affect the way the public view of women’s image. A collection of short stories “BH” by Emha Ainun Nadjib is one of the fiction books featuring women as the main subject. Of the twenty-three short stories that were published, there are two short stories that feature women who experience gender injustice, in between the short story titled Lelaki Ke-1000 di Ranjangku and Mimpi Istriku. The purpose of this research is to explain the representation of women in the collection of short stories “BH” by Emha Ainun Nadjib. This research used qualitative approach with critical discourse analysis method of Sara Mills. The results of this research are women represented in the position of second class and sexual objects in a short story titled Lelaki Ke-1000 di Ranjangku. Women are also represented easily emotional, irrational thinking, identical to domestic sphere, and positioned inferior in a short story titled Mimpi Istriku. Keywords: collection of short stories “BH”,critical discourse analysis, Emha Ainun Nadjib, female representation, gender, Sara Mills, stereotype 1. PENDAHULUAN Perbedaan jenis kelamin melahirkan ketidakadilan gender di masyarakat. Menurut Hermawati (2007:18), perbedaan tersebutberasaldari salah satu pihak yang merasa atau dianggap lebih tinggi, lebih berkuasa dari pihak lain. Oleh karena itu, muncullah ketidakadilan atau ketidaksetaraan. Ketidakadilan gender terdiri dari berbagai macam bentuk, seperti stereotip atau pelabelan negatif, marginalisasi atau pemiskinan peran terhadap salah satu jenis kelamin, kekerasan, dan sebagainya.Bentuk- bentuk ketidakadilan gender tersebut kemudian dikonstruksi oleh media massa dalam bentuk berita, sinetron, iklan, dan sebagainya. Dalam industri sinetron sering ditemukan stereotip perempuan pencemburu, emosional, mudah menangis, dan gemar bergosip. Media massa juga menghubungkan perempuan dengan rumah tangga, karena dikaitkan dengan tugasnya dalam reproduksi. Penggambaran perempuan dengan tubuh tinggi dan langsing, serta rambut lurus dan kulit putih sering pula diadaptasi dalam iklan- iklan, sehingga penggambaran perempuan seperti inilah yang dianggap ideal di masyarakat. Nilai-nilai terhadap perempuan tidak serta merta lahir begitu saja.Nilai-nilai tersebut lahir dari dominasi kuat oleh kelompok kepentingan di masyarakat, sehingga tanpa sadar masyarakat akan menerima nilai-nilai tersebut sebagai hal yang berlaku. Nilai ini akan semakin kuat karena terus-menerus dilanggengkan oleh media massa, sehingga dapat memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perempuan.