Ketut Hery Sony Pratama, Saortua Marbun Komodifikasi Penjor Sebagai Sarana Persembahyangan Umat Hindu
Jurnal Studi Kultural Volume I No. 2 Juli 2016 www.an1mage.org 110
Jurnal Studi Kultural (2016) Volume I No.2:110-115
Jurnal Studi Kultural
http://journals.an1mage.net/index.php/ajsk
Laporan Riset
Komodifikasi Penjor sebagai Sarana Persembahyangan Umat Hindu
Ketut Hery Sony Pratama, Saortua Marbun*
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Triatma Mulya
Info Artikel
Sejarah artikel:
Dikirim 14 Maret 2016
Direvisi 20 April 2016
Diterima 24 Mei 2016
Kata Kunci:
Komodifikasi
Penjor
Hindu
Galungan
Bali
1. Pendahuluan
Penjor merupakan salah satu budaya yang berkembang di
masyarakat khususnya di Bali, seiring dengan berjalannya
waktu, penjor pun mulai berubah maknanya bagi
Masyarakat Hindu itu dikarenakan semakin banyak generasi
muda yang tidak tahu menahu tentang makna penjor yang
sebenarnya.
Penjor saat ini sudah cenderung hanya sebagai hiasan rumah
saat Galungan sehingga masyarakat berlomba-lomba dalam
membuat hiasan penjor yang sedemikian rupa.
Sama halnya seperti canang, penjor pun mulai dilirik dalam
dunia usaha, karena di zaman sekarang ini orang sudah lebih
mementingkan kegiatan duniawinya atau kegiatan mereka di
kantor atau lebih mementingkan pekerjaannya dari pada
membuat penjor dari kebiasaan tersebut banyak masyarakat
yang mencari keuntungan lewat berjualan penjor.
Gejala ini memunculkan masalah-masalah seperti, Pertama,
bagaimana pandangan Agama Hindu tentang penjor? Kedua,
apa makna penjor yang sebenarnya? Ketiga mengapa penjor
itu dikomodifikasi? Keempat, bagaimana pandangan
manajemen bisnis terhadap komodifikasi penjor? Jawaban
dari masalah-masalah tersebut sangat dibutuhkan guna
menambah wawasan tentang penjor dan maknanya serta
peluang bisnisnya.
Jawaban tersebut dibutuhkan banyak orang agar memahami
arti dari penjor menurut Agama Hindu, dan untuk
mengetahui penyebab penjor dikomodifikasi.
2. Diskusi
Galungan merupakan salah satu acara besar di Bali
walaupun belum diakui sebagai hari libur nasional. Dalam
perayaannya Galungan sangat identik dengan dipasangnya
penjor di depan rumah tepatnya di sebelah kanan pintu
gerbang rumah atau di depan Sanggah Lebuh.
Penjor dibuat dari bahan-bahan alam yakni bambu yang
ujungnya melengkung lalu dihiasi dengan berbagai jenis
reringkitan atau variasi dari daun janur atau daun enau yang
masih muda.
Citra 1. Penjor. Sumber: Magnificient Bali, 2014
https://magnificientbali.files.wordpress.com/2014/05/penjor.jpg?w=300&h=200
Menurut Ajaran Agama Hindu di Bali, penjor dimaknai sebagai pemberian persembahan atau sebagai
ungkapan terimakasih kepada bumi atau pertiwi yang sudah memberikan tempat hidup dan kesejahteraan
manusia, mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan manusia untuk mencapai kemenangan dharma
melawan adharma. Penjor dibuat dari bahan-bahan alam yakni sebatang bambu yang ujungnya melengkung
lalu dihiasi dengan berbagai jenis reringkitan, variasi dari daun janur atau daun enau yang masih muda.
Seiring dengan berjalannya waktu, penjor pun mengalami pergeseran makna bagi Masyarakat Hindu
dikarenakan semakin banyak generasi muda yang tidak memahami makna penjor yang sebenarnya.
Di sisi lain, penjor telah diperjualbelikan beserta dengan kelengkapan-kelengkapannya. Komodifikasi penjor
membuat masyarakat merasa dimudahkan mengingat bahan-bahan pembuatan penjor seperti janur, bambu,
dan bahan lainnya saat ini sudah mulai langka di daerah perkotaan. Bertambahnya penjual penjor di
Kawasan Denpasar membuat masyarakat cenderung memilih membeli perlengkapan penjor atau pun penjor
yang sudah jadi.
© 2016 Komunitas Studi Kultural Indonesia. Diterbitkan oleh An1mage. All rights reserved.
Abstrak
∗ Peneliti koresponden: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Triatma Mulya, Jl. Kubu Gunung
Tegal Jaya Dalung Kuta Utara Badung, Bali 80361. Mobile: +628123643289 |
Email:saortuam@gmail.com