JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5 No. 2 (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) D-211 Pemodelan Status Ketahanan Pangan di Provinsi Jawa Timur dengan Pendekatan Metode Regresi Probit Biner Febriliani Masitoh, dan Vita Ratnasari Jurusan Statistika, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: vita_ratna@statistika.its.ac.id, febrilianim@gmail.com Abstrak—Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi dan pemenuhannya merupakan hak asasi manusia yang telah dijamin dalam UU RI guna mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas utama dalam pembangunan nasional. Suatu wilayah dapat mencapai ketahanan pangan apabila mampu mencapai tiga dimensi, yaitu keterjangkauan, ketersediaan, serta pemanfaatan pangan. Pada peta ketahanan dan kerentanan pangan nasional, kabupaten-kabupaten di Jawa Timur masuk dalam dua kategori, yaitu ketahanan pangan sedang dan relatif tahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik status ketahanan pangan, memodelkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi ketahan-an pangan di Jawa Timur menggunakan metode regresi probit biner, dan membandingkan hasil prediksi model dengan kla-sifikasi status ketahanan pangan aktual. Data sekunder yang digunakan mengenai variabel yang diduga mempengaruhi ke-tahanan pangan, yaitu rasio konsumsi normatif per kapita ter-hadap ketersediaan bersih serealia, persentase penduduk di-bawah garis kemiskinan, persentase desa dengan akses peng-hubung kurang memadai, persentase rumah tangga tanpa akses listrik, persentase perempuan buta huruf, persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih, persentase desa dengan jarak lebih dari 5 Km dari fasilitas kesehatan, persentase balita pendek, dan angka harapan hidup pada 29 kabupaten di Jawa Timur tahun 2014. Berdasarkan analisis data dan pembahasan menggunakan metode regresi probit biner dapat diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan adalah persentase rumah tangga tanpa akses ke air bersih dan angka harapan hidup. Diperoleh ketepatan klasifikasi sebesar 93,103 persen dan nilai Pseudo R 2 McFadden sebesar 74,6 persen. Kabupaten yang masuk dalam ketahanan pangan sedang mayoritas berada di Provinsi Jawa Timur bagian timur. Kata Kunci— Jawa Timur, Ketahanan pangan, Pseudo R 2 McFadden, Regresi Probit Biner. I. PENDAHULUAN angan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling esensial untuk mempertahankan hidup dan kehidupan. Begitu pentingnya pangan sehingga setiap individu bahkan negara harus mampu mempertahankan pangan. Ketahanan pangan di Indonesia telah ditetapkan dalam Undang-Undang nomor 18 pasal 1 tahun 2012. Terdapat empat dimensi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan, yaitu (1) ketersediaan pangan, (2) keterjangkauan ekonomi dan fisik pangan, (3) penggunaan pangan yang mencakup kualitas dan keamanan pangan, serta (4) kestabilan pada ketiga dimensi lainnya [1]. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di dunia yang menduduki peringkat ke 74 dari 109 negara dengan indeks ketahanan pangan global tahun 2015 sebesar 46,7 [2]. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu lumbung padi nasional. Namun, berdasarkan peta ketahanan dan kerentanan pangan nasional tahun 2015 terdapat sepuluh kabupaten di Jawa Timur yang masih masuk dalam kelompok kabupaten ketahanan pangan sedang hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan perlu ditingkatkan terutama dalam pemerataan ketahanan pangannya. Ketahanan pangan di Indonesia dikategorikan menjadi tiga tingkatan, yaitu paling rawan pangan, ketahanan pangan sedang dan relatif tahan pangan namun kabupaten-kabupaten di Jawa Timur masuk dalam dua kategori, yaitu ketahanan pangan sedang dan relatif tahan pangan [3]. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik dan memodelkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi ke-tahanan pangan di Jawa Timur, serta membandingkan hasil klasifikasi status ketahanan pangan secara aktual dengan hasil prediksi model. Terdapat analisis statistik yang dapat menjelaskan hubungan antara variabel respon dan prediktor yang sering digunakan dalam suatu penelitian dimana variabel respon berupa data kualitatif atau kategori yaitu model logit, dan model probit [4]. Namun terdapat perbedaan dari kedua metode tersebut yaitu link function dan interpretasi model. Metode regresi probit merupakan metode yang menggunakan link function distribusi normal dan interpretasi model meng-gunakan nilai efek marginal sedangkan metode regresi logistik menggunakan link function distribusi logistik dan interpretasi model menggunakan nilai odds ratio. Model probit lebih mudah dikerjakan daripada model logistik karena link function distribusi normal yang digunakannya meskipun apabila keduanya dibandingkan maka model dari keduanya hampir sama. Data status ketahanan pangan Jawa Timur sebagai variabel respon berupa data biner sehingga untuk memodelkan faktor-faktor yang diduga mempengaruhi status ketahanan pangan di Jawa Timur dapat menggunakan model regresi probit biner. Batasan penelitian ini adalah data sekunder yang digunakan mengenai ketahanan pangan 29 kabupaten di Jawa Timur tahun 2014, menggunakan prosedur backward elimina-tion untuk mengatasi multikolinieritas, dan kabupaten yang diambil sebagai unit penelitian diasumsikan identik. P