HARGA SOSIAL KESENIMANAN Oleh Aprinus Salam Pierre Bourdieu, seorang sosiolog dan pakar budaya Prancis terkenal, pernah membagi legimasi seniman, atau sastrawan/penyair, dalam ga kategori, yakni legimasi spesifik, borjuis, dan populer. Legimasi itu merupakan “harga sosial” seorang seniman dalam masyarakatnya. Legimasi spesifik adalah seniman yang dianggap serius dan berbobot. Legimasi berjuis adalah seniman yang terkenal, tapi karyanya belum tentu berbobot. Biasanya karena ada struktur ekonomi yang mendongkrak popularitas seniman borjuis. Legimasi populer adalah seniman yang juga relaf terkenal, tetapi karyanya dianggap ngepop dan bermutu rendah. Klasifikasi itu boleh dikatakan seper suatu hierarki, ada yang dianggap lebih nggi, dan sebaliknya, ada yang dianggap lebih rendah. Persoalannya, bagaimana dan kapan seniman mendapatkan harga sosial yang berbeda? Di sini, mau dak mau kita harus menguji beberapa kasus. Dalam kesempatan ini, saya ingin membicarakan Toto Sugiarto, Joko Santosa, dan Iman Budhi Santosa. Iman Budhi Santosa Perjalanan hidup Iman BS, merupakan contoh terbaik bagaimana konsekrasi bisa menjadikannya masuk ke dalam kategori seniman atau penyair spesifik. Dalam perjalanan hidupnya, dia mengerahkan seluruh aspek modalitas sosial, dengan dukungan modalitas budaya, dengan sedikit mengabaikan modalitas ekonomi dan simbolik. Akan tetapi, modalitas simbolik dia dapatkan dari modalitas budaya dan sosial itu sendiri. Dengan ketekunan berkarya, dan bagaimana ia piawai mengelola modal-modal yang ia miliki, dak ada yang meragukan posisi harga sosial Iman BS. Memang, kadang ada masalah, mungkin karena kebaikan hanya, ia terlibat dalam banyak kegiatan sastra dari yang “lumayan berbobot” hingga acara-acara sastra yang dengan sombong kita mengatakannya ecek-ecek. Kadang, juga dak ada yang hebat dari “tuturan”nya dalam berbagai acara sastra itu. Akan tetapi, ternyata keterlibatan Iman BS dalam semrawutnya acara sastra dak menyebabkan harga sosialnya jatuh. Secara teorek hal ini menarik karena ternyata beberapa pengarang di Prancis, yang bisa disebut seniman spesifik, keka dia juga terlibat dalam karya atau acara sastra ecek-ecek, hal itu dak menjatuhkan harga sosialnya. Bourdieu bahkan dak mempersoalkan apakah seorang seniman pernah menulis karya sastra dak bermutu dalam perjalanan kesenimanannya. Tentu, dak semua aspek teorek yang diformulasikan dan dikembangkan di negeri lain (Eropa atau Amerika), bisa sepenuhnya menjawab berbagai permasalahan sastra di Indonesia, apalagi yang secara kultural di sebut Jawa (Yogyakarta). Terdapat perbedaan mendasar dari segi cara bersastra, nilai-nilai, ataupun struktur pembentuk arena sastranya. Hal yang paling mendasar dari perbedaan tersebut