ARTIKEL 48 Prisma Vol. 36, No. 3, 2017 D emokratisasi pasca-Orde Baru berjalan beriringan dengan menguatnya politik identitas dalam perebutan dan perta- rungan kekuasaan. Belum lama berlalu, mobi- lisasi kekuatan Muslim konservatif dan retorika politik yang rasialis dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2017 telah membuka jalan bagi kemenangan pasangan Anies Bas- wedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) menga- lahkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot). Banyak pe- ngamat dan media mencap kekalahan pasangan petahana itu sebagai indikasi menguatnya popu- lisme kanan di Indonesia, sebagaimana saat ini juga menjadi fenomena di berbagai tempat. 1 Tulisan ini berupaya memahami kondisi yang memungkinkan berkembangnya populisme ka- Populisme Islam dan Tantangan Demokrasi di Indonesia Abdil Mughis Mudhof fir Diatyka Widya Permata Yasih Luqman-nul Hakim nan dalam era kontemporer. Secara lebih spe- sifik, akan diperiksa karakter populisme kanan dan illiberal di Indonesia serta implikasinya bagi masa depan demokrasi di Indonesia. Tulisan ini melihat populisme kanan seba- gai simtom dan tanggapan terhadap dislokasi sosial yang diakibatkan oleh globalisasi neo- liberal dan krisis demokrasi representasi dalam konteks absennya gerakan politik progresif. Fokus utamanya adalah pada konstruksi subjek politik berupa koalisi multi kelas atas nama “rakyat” melawan sekelompok “elite” yang dianggap korup dan menindas. Tentu saja, konstruksi tersebut dan manifestasi populisme yang muncul tidak bisa dilepaskan dari trans- formasi sosial yang spesifik, yang membedakan karakter dan trajektori politik populisme dari satu tempat dengan tempat lainnya. 2 Argu- Tulisan ini mendiskusikan kondisi yang memungkinkan berkembangnya populisme kanan (Islam) di Indonesia serta implikasinya terhadap masa depan demokrasi. Sebagai fenomena umum dalam era pasar bebas, populisme kanan yang eksklusioner dan rasialis di Indonesia, seperti juga di berbagai tempat merupakan simtom dan tanggapan terhadap dislokasi neoliberalisme dan krisis representasi dalam konteks absennya gerakan politik yang progresif. Tidak terbangunnya basis sosial multi kelas serta borjuasi Muslim yang kuat produk depolitisasi yang panjang serta dominasi ekonomi oleh borjuasi domestik Cina, menghasilkan aliansi populisme Islam di Indonesia yang terfragmentasi. Kata Kunci: globalisasi, mobilisasi identitas, neoliberal, populisme, tantangan demokrasi SURVEI Prisma 1 Lihat, http://nasional.kompas.com/read/2017/ 01/16/07444731/populisme.kesenjangan.dan. ancaman. terhadap.demokrasi (diakses tanggal 24 Juli 2017). 2 Lihat, sejumlah kajian yang menekankan aspek dislokasi neoliberalisme, krisis representasi, dan absennya gerakan kiri dalam menjelaskan popu-