Kajian Perspektif Bahasa Rupa Silent Manga Sayid Mataram Desain Komunikasi Visual FSRD UNS Jl. Ir. Sutami No.36A Kentingan Surakarta 57216 Email: danangmataram@gmail.com AbstrakManga adalah ragam komik yang muncul dari Jepang yang dewasa ini membudaya di belahan dunia manapun. Silent manga muncul sebagai variasi yang muncul dengan konstruksi elemen berbeda dengan komik konvensional. Analisis gejala dalam konstruksi bahasa rupa penyusun elemen komik digunakan sebagai cara untuk mengungkap perbedaan tersebut. Teori tata ungkap dalam dan tata ungkap luar dari teori Bahasa Rupa Primadi Tabrani merupakan perspektif yang tepat untuk melihat silent manga dari sisi relasi elemen-elemen dalam panel serta relasi antar panel dalam suatu halaman. Kata Kunci: silent manga, tata ungkap luar, tata ungkap dalam, bahasa rupa, komik Abstract Manga is a variety of comics that emerged from Japan that has a lot of fans in every part of the world. Silent manga appears as variations that appear with the construction of different elements with conventional comics. Symptom analysis in the construction of visual languages of comic elements was used as a way to reveal the difference. The theory of inner and outer layout of the Prima Tabrani Fine Language theory is an appropriate approach that could be used to see different element in the silent manga. Keyword: silent manga, internal composition, external composition, visual language, comic A. Pendahuluan: Komik dan Manga Komik merupakan salah satu wujud dari produk seni yang dewasa ini menjadi lebih populer. Mahzab besar komik dari Barat (Eropa dan Amerika) serta dari Timur (Jepang) saling mempengaruhi satu dengan yang lain dalam konstelasi komik dunia. Perbedaaan kultur yang kemudian menelurkan beragam variasi komik. Perbedaan tersebut dapat terlihat misalnya dari bentuk fisik, gaya gambar, genre, juga dalam penyusunan elemen-elemen komik. Komik diterjemahkan sebagai cerita bergambar (cergam) dalam bahasa Indonesia. Komik merupakan cerita yang divisualisasikan menggunakan gambar beserta elemen-elemen pendukung lainnya. Fungsi komik pada dasarnya sebagai media tutur, untuk selanjutnya dianalogikan dengan bahasa (linguistik) yang juga merupakan media tutur. Analogi tersebut dimaksudkan untuk membangun analogi struktur penyusun komik. Sebagai salah satu bentuk media komunikasi tentunya komik mampu menghantarkan suatu pesan, yang dalam hal ini adalah dari komikus kepada pembaca komik. Manga merupakan istilah dari bahasa Jepang untuk menyebut komik, namun istilah tersebut kemudian menjadi populer sehingga merambah pada gaya visual. Manga dewasa ini telah berkembang masuk seolah menginvasi kebudayaan di dunia dengan pengaruhnya. Salah satu kekayaan budaya manga ini adalah munculnya silent manga atau manga (komik) “bisu” yang secara visual dan harafiah diterjemahkan sebagai bentuk manga yang tidak menggunakan phonogram (kata/tulisan) di dalamnya. Kehadiran silent manga menghadirkan suatu kecemasan mengenai konstruksi penyusun komik. Keraguan silent manga sebagai sebuah komik karena ketidak lengkapan elemen pembentuk strukturnya. Ketidakadaan unsur phonogram cukup mengganggu karena persepsi mengenai elemen komik pada umumnya hadir dengan relasi yang “baku”. Menjadi menarik ketika berusaha untuk mengkategorikan silent manga sebagai komik atau bukan. B. Metodologi Penelitian Penelitian yang dilakukan termasuk dalam penelitian kualitatif deskriptif yang mengambil contoh kasus