225 SAREKAT ISLAM DAN GERAKAN KIRI DI SEMARANG 1917-1920 Tsabit Azinar Ahmad Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Semarang Abstrak. Perkembangan komunisme yang sangat pesat pada tahun 1950-1960-an tidak dapat dilepaskan dari awal mula kemunculan dan inkorporasinya dalam organisasi massa pada periode Pergerakan Nasional. Perkembangan komunisme memiliki hubungan erat dengan organisasi Sarekat Islam yang berada di Semarang. Sarekat Islam dapat dikatakan berperan sebagai embrio penyebaran komunisme di kalangan masyarakat luas. Gagasan komunisme ternyata memiliki pendukung dari sebagian kalangan Sarekat Islam. Namun demikian, dalam perkembangannya muncul perdebatan. Perdebatan ini bahkan berujung pada pecahnya Sarekat Islam. Hasil dari perpecahan Sarekat Islam inilah yang kelak menjadi embrio dari partai komunis di Indonesia. Kata-kata kunci: Sarekat Islam, komunisme, Semaoen. Abstract. The radical spread of Communism around 1950-1960’s could not be separated from its emergence and its incorporation in mass organization during the period of national movement. The communism development has a close relationship with Sarekat Islam organization located in Semarang. Sarekat Islam could be realized as a centre of shaping Indonesian communism. Some of them believe in communism as a way leading them to the goal of life. However, the conflict of arguments accompanies its journey. This conflict leads them to be separated into two partial organizations and one of both as known as the main point of Indonesia communism party. Keywords: Sarekat Islam, Communism, Semaoen Memasuki abad XX, kolonialisme di Hindia Belanda memasuki masa kulminasi. Pemerintah kolonial telah berkembang dalam tahap yang lebih mapan. Alih-alih menjadi upaya untuk membalas budi pada pribumi, kebijakan Politik Etis justru makin menguat- kan posisi pemerintah kolonial untuk terus melanjutkan kekuasaannya atas Hindia Belanda. Di satu sisi, perkembangan kontrakolonialisme juga mamasuki tahap baru, yakni dengan perubahan corak per- gerakan rakyat. Perubahan corak ini ditandai dengan adanya upaya tersistematisasi dalam berbagai lembaga pergerakan yang memiliki tujuan dan langkah-langkah strategis yang lebih jelas dibanding masa-masa sebelum- nya. Munculnyagerakan-gerakan yang lebih terstruktur dan terorganisasi menjadi sebuah model pergerakan baru yang sangat ber- pengaruh terhadap dinamika sejarah pada paruh pertama abad XX. Berbagai organisasi dengan beragam latar belakang muncul. Tidak terkecuali organisasi yang membawa predikat Islam. Salah satu organisasi berpredikat Islam yang berkembang dan dengan cepat menarik perhatian rakyat adalah Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1914, anggota SI berjumlah 444.251. Pada bulan Oktober 1918 Kongres Ketiga Sarekat Islam dihadiri oleh 450.000 anggotanya. Pada tahun 1919, SI menyatakan bahwa mempunyai 2 juta anggota(Suhartono, 1994; Kahin, 1995:94; Riklefs, 1991:253). Sarekat Islam bermula dari Sarekat Dagang Islam yang didirikan pada tahun 1911 oleh H. Samanhudi di Solo, yang merupakan cabang dari SDI bentukan R.M. Tirto