1 Arsitektur Betang Tumbang Gagu (Kajian Bentuk, Fungsi dan Nilai Penting) Oleh Etha Sriputri Abstrak Rumah panjang/long house merupakan salah satu arsitektur venankular atau arsitektur tradisional yang hanya ada di Kalimantan dan masih dapat dijumpai dibeberapa daerah dengan penamaan yang berbeda-beda, namun secara umum memiliki bentuk yang sama berupa rumah panggung. Rumah panjang atau Suku Dayak Ngaju menyebutnya betang bukan hanya sekedar rumah, tetapi juga memiliki makna lebih sebagai satu kesatuan yang mengikat para penghuninya dalam aturan yang berorientasi pada kepercayaan kaharingan, betang juga merupakan perwujudan dari kealifan local dengan kepercayaan kaharingan. Pada masa lalu pelaksanaan upacara tiwah dilaksanakan di betang, sehingga tidak mengherankan betang ditemukan selalu berasosiasi dengan lumbung, sapundu, sandung, dan tiang pantar. Sebagai salah satu arsitektur tradisional yang masih ada, kajian nilai penting terhadap betang merupakan hal yang penting dilakukan dengan tujuan pelestarian. Kata Kunci; Arsitektur tradisional, betang, kepercayaan kaharingan, tiwah, bentuk, fungsi dan nilai penting, pelestarian. 1. Pendahuluan a. Latar Belakang Arsitektur venakular atau arsitektur tradisional/rumah tradisional merupakan salah satu wujud budaya masyarakat penutur bahasa Austronesia yang menyebar di Asia Tenggara hingga ke Madagaskar. Dalam bukunya Ensiklopedi Venankular Architecture Paul Oliver mengatakan: “Vernacular Architecture is now a term most widely used to denote indigenous, tribal, folk, peasant, and traditional architecture” Koentjaraningrat (1997) mendefinisikan arsitektur tradisional sebagai suatu pencerminan wujud/zaman tertentu yang mempunyai ciri khas dan asli daerah tersebut, dan sudah menyatu secaa seimbang, serasi dan selaras dengan masyarakat, adat istiadat, dan lingkungan. Berbeda dengan Djauhari Sumintardja (1978), yang mengatakan “rumah tradisional dapat diartikan sebuah rumah yang dibangun dan digunakan dengan cara yang sama sejak beberapa generasi. Adanya beberapa perbedaan rumah tradisional di Indonesia, tetapi juga memiliki beberapa memiliki kesamaan secara general (Arya Abieta, dkk; Tanpa Tahun;60-61) yakni: 1. Ritual kepercayaan sebagai acuan pembentukan ruang; 2. Beradaptasi dengan alam dan iklim setempat; 3. Memiliki bentuk atap yang dominan; 4. Memiliki konstruksi kayu; 5. Sebagian besar merupakan rumah panggung;