Unpublished 1 EKSPRESI EMOSI DALAM BUDAYA Oktarizal Drianus (Magister Sains Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) PENGANTAR Seberapa dan bagaimana hubungan timbal-balik budaya (culture) dan emosi (emotions)? Pertanyaan ini lah yang menjadi titik simpul dan titik kebingungan dari kajian- kajian yang mencoba menggeledah emosi termasuk antropologi, filsafat, sosiologi, komunikasi dan lingustik, psikologi, dan sebagainya. Emosi sebagai konsep teoretis psikologi telah jauh-jauh hari dikaji serius oleh banyak pakar, salah satunya Paul Ekman dan rekan-rekannya (Ekman, 1972;1992;2003;2005). Berkaitan dengan hal di atas, sebagai kajian cross-cultural psychology, tema yang berkaitan dengan emosi mengalami “kegalauan akademik”, dimana ada kecenderungan dan tarik-menarik antara emosi sebagai kondisi psikologis atau emosi sebagai konstruksi sosial budaya. Berry. dkk (2002) mengeksplisitkannya dengan tegas bahwa in crosscultural studies the most central question is how to find a balance between emotions as psychological states that presumably are invariant across cultures, and emotions as social constructions that differ in essential ways across cultures. Kecenderungan di atas membawa dua implikasi yang saling menjauhi kutub antara pendekatan universalisme dan partikularisme. Oleh karenanya, cross- cultural psychology hadir dalam upaya menjembatani polarisasi ekstrem antara dua pendekatan tersebut. Dengan kata lain, “sekali tepuk, dua lalat didapat”. Usaha ini lah yang sedang dicoba dalam pembahasan kali ini. Tema yang luas ini tidak mungkin dapat dijangkau semuanya dalam pembahasan. Berlandas pada kesadaran itu, maka pembahasan mencukupkan diri pada interaksi resiprokal atau intertekstualitas antara budaya dan eksrepsi emosi saja. Adapun mengenai bentuk-bentuk emosi dalam budaya dapat ditangguhkan untuk sementara waktu. Lokus pembahasannya pun seputar emosi dalam tataran konseptual yang mencoba menunjukkan sisi universal dan sisi partikular serta sejauh mana intervensi budaya terhadap ekspresinya. Hubungan yang dimaksud tidak sekedar mencari hubungan sebab-akibat, melainkan bagaimana suatu antecendent dimaknai dan dihayati dalam sebuah kebudayaan. A. EMOSI 1. Sekilas Tentang Emosi Usaha menangkap dan meringkus definisi emosi dalam satu terminologi yang ketat sudah dilakukan sejak zaman Yunani, baik di bidang filsafat maupun psikologi. Perjalanan panjang ambil-buang ini, hingga saat ini hanya dapat memahatnya dalam pengungkapan aspek-aspek emosi saja baik bentuk maupun pengungkapannya. Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut KBBI, emosi adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yang bersifat subjektif) (http://kbbi.web.id/emosi). Definisi yang cenderung clear-cut mengenai emosi dapat dirunut pada William James yang mengatakan bahwa emotion is the perception of any such bodily change (Oatley, 2004). Daniel Goleman (2003) mengatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Descrates membagi emosi menjadi tiga: Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder