269 Faktor Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di SMP Bambang Murwanto Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politenik Kesehatan Tanjungkarang Email: bamurwanto@yahoo.co.id Abstract: Factors of Handwashing Behavior with Soap in Junior Secondary Schools. Riskesdas (2013), Diarrhea is the number one cause of death in infants (31.4%), children under five (25.2). Whereas in all age groups is a cause number four, or 13.2%. Various factors affect the disease Diarrhoea among the factors of health behavior, especially the behavior of Handwashing with Soap that has been campaigned, both from the national level. As well as health offices District/City through PHC, especially in schools, including junior high school. The problem is to what extent the role of behavior Handwashing with Soap and the factors associated with it in school children. The purpose of this study was to determine the role of factors related to the behavior Handwashing with Soap, in junior high schools. This research method was quantitative observational with a cross sectional approach, with research time the months of April to July 2016. The study population was all students of SMP Negeri 1 Penengahan, South Lampung, 2016. Samples were taken by a proportional random sampling of 156 junior high school students. Subjects were children of class VII and Class VIII. The results of the study are of most variables are good (> 50%), except for the variable perception and the Role of Health who are poor (<50%), and the only variable values, Role of Teachers and the Role of Friends Schools that have a relationship significant overall Handwashing Behavior and Role of School Friend variable most dominant relationship. Keywords: Behavior, Handwashing by Soap, Diarrhea Abstrak: Faktor Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di SMP. Riskesdas 2013, penyakit Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%), balita (25,2), pada semua kelompok umur nomor empat (13,2%). Berbagai faktor yang mempengaruhi penyakit Diare diantaranya faktor perilaku kesehatan terutama perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang telah dikampanyekan, dari tingkat pusat maupun Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui Puskesmas, terutama di sekolah-sekolah, termasuk tingkat SMP. Permasalahannya adalah sampai seberapa jauh peranan perilaku CTPS dan faktor-faktor yang berhubungan dengannya pada anak sekolah. Tujuan penelitian, untuk mengetahui peranan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku CTPS, di SMP. Metode Penelitian kuantitatif observasional dengan pendekatan Cross Sectional, waktu penelitian antara April-Juli 2016. Populasi seluruh murid SMP Negeri 1 Penengahan, Kec. Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2016. Sampel diambil secara Proposional Random Sampling sebesar 156 orang murid. Subyek, adalah murid kelas VII dan Kelas VIII. Hasil penelitian, sebagian besar variabel bersifat baik (>50%), kecuali variabel Persepsi dan Peranan Petugas Kesehatan yang bersifat buruk (<50%), dan hanya variabel Nilai- nilai, Peranan Guru dan Peranan Teman Sekolah yang mempunyai hubungan bermakna terhadap Perilaku CTPS, dan variabel Peranan Teman Sekolah hubungan yang paling dominan. Kata kunci: Perilaku, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Diare Pembangunan kesehatan yang merupakan bagian dari pembangunan manusia, mempunyai sasaran peningkatan derajat kesehatan yang berujung pada peningkatan Umur Harapan Hidup dan memberi konribusi pada pada hasil manusia seperti disebutkan di atas. Salah satu permasalahan status kesehatan di atas adalah masalah penyakit Diare karena penyakit merupakan salah satu faktor kematian bayi dan balita di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia menurut Riskesdas 2013, Diare merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada semua golongan umur penyebab kematian nomor empat (13,2%). Menurut Riskesdas 2013, insiden diare pada semua kelompok umur mencapai 3,5% (rentang menurut provinsi 1,6%-6,3%), insiden diare pada balita sebesar 6,7% (rentang menurut provinsi 3,3%-10,2%). Sedangkan periode prevalence diare pada semua kelompok umur berdasarkan gejala sebesar 7% dan pada balita 10,2%, (Kementerian Kesehatan, 2014). Walaupun periode prevalence diare pada semua kelompok