1 BUDIDAYA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) Nanang Sutomo, Bambang Wicaksono Hariyadi, Mahrus Ali Fakutas Pertanian Universitas Merdeka Surabaya ABSTRAK Syarat Tumbuh Tanaman kakao Curah hujan pertanaman kakao berkisar antara 1800 – 3000 mm pertahun dan merata sepajang tahun.Tanaman kakao masih bisa hidup pada musim kering yang berlangsung 2 bulan. Kelembapan udara relatif yang dikehendaki tanaman kakao adalah 80 – 90 %. Angin kencang dapat mengakibatkan kerusakan mekanis pada tanaman kakao serta menurunkan kelembapan relatif udara.Pengaruh angin kering pada pertanaman kakao di dekat pantai mengakibatkan matinya jaringan sel daun pada bagian tepi.Intensitas cahaya matahari diatur dengan adanya pohon pelindung. Intensitas cahaya matahari akan mengatur perbungaan tanaman kakao.Suhu yang dikehendaki berkisar antara 24 o C dan 28 o C tiap harinya. Suhu di atas 30 o C dibawah naungan sering menimbulkan terlalu banyak pertumbuhan vegetatif. Media Tanam Tanaman coklat menghendaki tanah dengan sifat – sifat Mudah meresap air. Drajat kemiringan 0 – 40 %. Kedalaman efektif minimal 90 cm. Tidak mempunyai lapisan padas yang dangkal. pH 5 – 7 Mengandung banyak humus. Ketinggian Tempat Tanaman coklat akan baik tumbuhnya di daerah yang mempunyai ketinggian 0 – 500 m dari permukaan laut. Dapat pulah dibudidayakan sampai ketinggian tempat 800 m dari permukaan laut. Kata kunci: Tanaman Kakao, Perkebunan PENDAHULUAN Tanaman kakao berasal dari Amerika Selatan. Dengan tempat tumbuhnya di hutan hujan tropis, tanaman kakao telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat selama 2000 tahun. Nama latin tanaman kakao adalah Theobroma Cacao yang berarti makanan untuk Tuhan. Masyarakat Aztec dan Mayans di Amerika Tengah telah membudidayakan tanaman kakao sejak lama, yaitu sebelum kedatangan orang-orang Eropa. Orang-orang Indian Mesoamerikalah yang pertama kali menciptakan minuman dari serbuk coklat yang dicampur dengan air dan kemudian diberi perasa seperti: merica, vanili, dan rempah-rempah lainnya. Minuman ini merupakan minuman spesial yang biasanya dipersembahkan untuk pemerintahan Mayan dan untuk upacara-upacara spesial.(Hariyadi, Ali, & Nurlina, 2017). Masyarakat Mayan menggunakan biji kakao sebagai mata uang (sebagai alat pembayaran). Pada abad ke-16 sesuai riwayat orang Spanyol seekor kelinci seharga 10 buah kakao dan seekor anak keledai seharga 50 buah kakao. Masyarakat Spanyol belajar tentang kakao dari masyarakat Indian Aztec pada tahun 1500-an dan mereka kembali ke Eropa dengan membawa makanan baru yang menggoda ini. Di Spanyo, kakao adalah minuman yang dipersembahkan hanya untuk raja. Mereka meminumnya