JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) 1 Abstrak— Kabupaten Jombang memiliki keunggulan ekonomi pada sektor pertanian dan sektor industri. Namun perkembangan pada kedua sektor tersebut belum mampu bekerja secara seimbang dan berkesinambungan. Dari delapan industri besar yang ada hanya satu industri yang mengolah hasil pertanian dan dari 556 hanya 118 yang merupakan IKM agroindustri. Hal ini dikarenakan, belum optimalnya nilai tambah yang diberikan pada output sektor pertanian. Optimalisasi produk pertaniaan dapat dilakukan dengan peningkatan industrialisasi produk pertanian (agroindustri). Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengembangan komoditas pertanian unggul di Kabupaten Jombang dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah melalui kegiatan agroindustri. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis Location Quotient dan Shift Share untuk mengidentifikasi komoditas unggulan. Kemudian analisis faktor-faktor pengembangan agroindustri pada masing-masing komoditas unggulan dengan teknik Analisis Delphi. Sehingga diperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan ketiga komoditas unggulan antara lain kuantitas dan bahan baku; jumlah dan kualitas tenaga kerja; ketersediaan pasar, bank, dan penggunaan mesin/teknologi; ketersediaan jalan, jaringan listrik, dan air bersih; serta media promosi. Sedangkan untuk kelompok usaha tani, daya beli masyarakat, tingkat kebutuhan masyarakat berpengaruh pada komoditas unggulan jagung dan cengkeh. Kata Kunci—komoditas unggulan, agroindustri, industri kecil menengah. I. PENDAHULUAN engembangan wilayah merupakan upaya membangun dan mengembangkan wilayah berdasarkan pendekatan spasial yang mempertimbangkan aspek sosial-budaya, ekonomi, lingkungan fisik, dan kelembagaan dalam suatu kerangka perencanaan dan pengelolaan pemerintahan secara terpadu [1]. Tujuan dari pengembangan wilayah adalah untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah, serta pengintegrasian ekonomi wilayah. Tercapainya tujuan pengembangan wilayah tersebut dapat dilihat dari adanya pertumbuhan ekonomi wilayah itu sendiri. Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di suatu wilayah, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah yang terjadi atau adanya peningkatan pendapatan wilayah. Salah satu konsep pengembangan wilayah berbasis ekonomi adalah konsep pengembangan agropolitan [2]. Pengembangan agrobisnis memiliki beberapa sistem diantaranya sistem agroindustri yang memiliki potensi yang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan masyarakat, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pemerataan pembangunan dan mempercepat pembangunan daerah [3]. Berdasarkan RTRW Kab. Jombang tahun 2009-2029 [4] dimana arah pengembangannya adalah sebagai kawasan sentra agribisnis dan pengembangan industri dengan meningkatkan daya saing wilayahnya, mengarahkan sektor industri sebagai sektor yang kompetitif dalam rangka menciptakan struktur ekonomi yang seimbang melalui pendayagunaan potensi produksi dalam negeri dan terwujudnya kerjasama maupun kemitraan antar sub-sektor industri. Kabupaten Jombang dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan agroindustri, didukung dengan potensi pertanian yang cukup baik. Hal ini dapat dilihat pada PDRB Kabupaten Jombang tahun 2014 [5] yang menunjukkan bahwa sektor pertanian berperan sebesar 3.488.698,5 juta rupiah (16,6%) total PDRB. Nilai tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang hanya 3.404.657,5 juta rupiah (2,5%). Penyumbang nilai terbesar dalam sektor pertanian adalah subsektor tanaman bahan makanan. Subsektor tanaman bahan makanan memiliki andil sebesar 48 %. Selain sektor pertanian yang memiliki pengaruh besar dalam pendapatan daerah, terdapat beberapa sektor lain yang juga berpengaruh yaitu sektor industri pengolahan. Sedangkan sektor industri memiliki nilai sebesar 4.498.250,5 juta rupiah (21,4%). Pada tahun 2014, Badan Perizinan telah menerbitkan SK Izin Usaha Industri dengan total nilai investasi sebesar 21.360 milyar rupiah. Investasi terbesar ditanamkan oleh usaha industri di Kecamatan Peterongan yang bergerak pada bidang non pertanian. Namun pada tahun 2013, terjadi penurunan jumlah usaha industri besar sedang yang berakibat terjadi penurunan pemutusan hubungan kerja pada 239 orang buruh [6]. Industri besar yang berkembang di Kabupaten Jombang belum berbasis pertanian, dari delapan industri besar di Jombang hanya ada satu industri besar yang mengolah hasil pertanian, serta dari 556 IKM di Kabupaten Jombang hanya 118 yang merupakan IKM agroindustri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah pada komoditas pertanian masih perlu ditingkatkan. Menurut Rustiadi dalam Dipayana (2009), dalam mengembangkan kegiatan agroindustri dipengaruhi oleh faktor komoditas unggulan, fasilitas, infrastruktur, dan kelembagaan [7]. Faktor yang sama pada penelitian Dewanti, yang menjelaskan bahwa faktor yang berpengaruh pada pengembangan agroindustr suatu wilayah adalah ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, pasar, aksesibilitas dan listrik [8]. Oleh karena itu, untuk mengembangakan Kabupaten Jombang sebagai wilayah pengembangan agroindustri yang dapat meningkatkan perkonomian daerah, mengurangi tingkat pengangguran serta mewujudkan visi- misi daerah. diperlukan kajian tentang faktor-faktor pengembangan agroindustri. Faktor-faktor Pengembangan Agroindustri Berbasis Komoditas Pertanian Unggul Di Kabupaten Jombang P Ulul Hidayah dan Eko Budi Santoso Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia e-mail: eko_budi@urplan.its.ac.id