MAKNA KAMBING DAN MERPATI DALAM RITUAL NYEWU PADA MASYARAKAT JAWA Oleh: Surono PENDAHULUAN Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius, religius dalam arti mengakui ada kekuatan/kekuasaan lain di luar manusia. Lebih tepatnya kekuasaan alam transenden atau supra natural. Kepercayaan terhadap alam supranatural ini membuat masyarakat Jawa tampak sangat berhati-hati dalam bersikap dan berperliku dalam kehidupan sehari-hari (Suseno 1993). Masyarakat Jawa juga mempercayai pada kekuatan yang melebihi kekuatan manusia (Kodiran dalam Koentjaraningrat 1997:347) Sifat religiusitas tersebut misalnya tampak dalam ritual wiwit sebelum memanen padi, ritual ngubengi beteng ketika malam satu suro, dan ratusan bahkan ribuan ritual lainnya baik dalam lingkup yang luas maupun yang sempit. Demikian juga ketika masyarakat Jawa menyikapi kehidupan, mereka tidak lepas- lepasnya berusaha untuk selalu berkomunikasi dengan kekuatan supranatural. Salah satu contohnya adalah ritual masyarakat Jawa dalam daur hidup. Sejak manusila lahir di dunia langsung disambut dengan ritual brokohan, kemudian dilanjutkan dengan upacara sepasaran, selapanan, dan sebagainya. Bahkan ketika manusia sudah meninggal pun, keluarganya tetap melakukan ritual selamatan. Mulai dari sur tanah, tiga hari, tujuh hari, sampai dengan nyewu. Ritual kematian orang Jawa tidak cukup dilakukan sehari atau sepekan namun dilakukan dalam dalam rentang waktu yang panjang. Mulai dari saat kematian (geblak), peringatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari, bahkan sampai dengan kol-kolan. Setiap kegiatan mempunya makna sendiri- sendiri. (Zulfadli,2011; Subagya,2004). Khusus dalam ritual nyewu, masyarakat Jawa juga memiliki perlakuan khusus, dibanding dengan ritual-ritual yang berhubungan dengan kematian lainnya. Karena nyewu dianggap sebagai ritual perpisahan dari arwah seseorang yang sudah meninggal dengan kerabatnya yang masih hidup. Sehingga ritual tersebut harus dilakukan dengan semeriah mungkin. Salah satunya ditambahkannya kambing dan merpati dalam ritual tersebut. Demikian pentingnya posisi nyewu ini, sampai–sampai banyak keluarga Jawa yang rela untuk berhutang kepada orang lain demi acara nyewunya bisa terlaksana dengan baik. Ritual nyewu yang kita pandang demikian “sulit” dan “mahal” sebenarnya