AGORA Vol. 2, No. 2, (2014) Abstrak- Penelitian ini akan menjelaskan mengenai proses suksesi pada perusahaan keluarga yang bergerak di bidang konveyor. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti suksesi pada perusahaan keluarga yang bergerak di bidang konveyor yang tergolong sukses dam terus bertumbuh setelah proses suksesi tersebut. Metode yang peneliti gunakan yaitu metode kualitatif dengan melakukan wawancara langsung terhadap pemilik perusahaan, observasi dan studi pustaka. Setelah mendapatkan data maka peneliti akan melakukan uji keabsahan data dengan metode triangulasi sumber. Hasil penelitian yaitu pada perencanaan suksesi proses pemilihan calon suksesor sesuai dengan kebutuhan perusahaan namun mentoring harus terus dilangsungkan karena baru berjalan dua tahun. Proses transisi pada perusahaan keluarga yang bergerak di bidang konveyor berjalan mulus karena tidak terjadi hambatan-hambatan pada proses transisi. Evaluasi paska suksesi dinilai menghasilkan performa yang efektif berdasarkan penilaian dari 3 pola yang menyebabkan suksesi menjadi tidak efektif Kata kunci : perusahaan keluarga, perencanaan suksesi, proses suksesi, proses transisi, evaluasi paska suksesi I.PENDAHULUAN Beberapa penelitian tentang perusahaan keluarga telah mencatatkan peran yang sangat signifikan dari perusahaan keluarga atas pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Perusahaan keluarga telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi kegiatan ekonomi. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan bukan keluarga yang mengalami pasang surut pertumbuhan, perusahaan keluarga justru menunjukkan kinerja yang stabil dan cenderung meningkat. Sebagai dampak dari itu, perusahaan keluarga mampu member sumbangan antara 45% sampai 70% dari Produk Domestik Kotor (GDP) dan banyak menyerap tenaga kerja di banyak Negara (Glassop dan Waddell, 2005). Meskipun terdapat perbedaan antar Negara, persentase sumbangan perusahaan keluarga di suatu Negara secara rata- rata adalah di atas 60%. Jadi, secara umum perusahaan keluarga menempati posisi utama khususnya di Negara-negara yang menganut system ekonomi pasar. Dengan kata lain, di Negara-negara dengan sistem pasar, keberadaan perusahaan keluarga sangat menonjol dan mempunyai derajat keberlanjutan (sustainability) yang tinggi. Berdasarkan data dari International Family Enterprise Research Academy (2003), perusahaan keluarga menempati posisi penting dalam perekonomian suatu negara-negara di dunia. Sebagai contoh, di Amreika Serikat, dimana diperkirakan 96 persen dari keseluruhan perusahaan adalah perusahaan keluarga. Sedangkan di Itali jumlah itu sedikit lebih kecil yaitu 93%. Sementara itu di Chili, 75% dari keseluruhan perusahaan dapat digolongkan sebagai perusahaan keluarga, di Belgia sebanyak 70%, di Spanyol sebanyak 75%, sedangkan di Australia bagian perusahaan keluarga adalah 75% dari keseluruhan unit bisnisnya. Perusahaan keluarga yang mampu bertahan umumnya memiliki rencana masa depan yang matang, serta kemauan untuk berubah dan berkembang. Bukan hanya mengenai suksesi dan sumber daya manusianya saja, namun juga terhadap produk dan layanan di masa depan yang dibutuhkan oleh masyarakat pada generasi yang bersangkutan. Untuk tetap relevan di dalam pasar (market), bisnis harus mau dan mampu berubah. Opportunity harus terus dicari. Ide-ide baru harus terus digali. Dan terkadang resiko memang perlu untuk diambil. Di Indonesia, sesuai dengan iklim bisnisnya, usia perusahaan-perusahaan yang ada di sini pun relatif masih muda. Namun ada juga yang sudah teruji cukup baik dalam melakukan regenerasi. Seperti misalnya, grup Sampoerna mampu bertahan sampai generasi ke empat, sebelum akhirnya menjual saham mereka ke Phillip Morris. Generasi ke tiga pun sudah mulai berkiprah di beberapa grup bisnis keluarga, seperti Grup Sosro, Bakrie,dan Djarum. Selain itu, perusahaan keluarga memberikan sumbangan yang besar terhadap pembentukan Produk Nasional Kotor (GNP). Di Amerika Serikat 40% dari GNP-nya disumbangkan oleh perusahaan keluarga. Perusahaan keluarga di Brazil dan Portugal menyumbangkan 65% GNP, sedangkan perusahaan keluarga di Australia menyumbangkan 50% GNP. Di Indonesia, sumbangan perusahaan keluarga terhadap pembentukan GNP adalah sebesar 80% (Casillas, Jose C., Fransisco J. Acedo and Ana M. Moreno, 2007: 22-24). Data diatas menunjukkan bahwa sebuah perusahaan keluarga memiliki peranan penting dalam dunia perekonomian, sehingga kelangsungan sebuah perusahaan keluarga harus sangat diperhatikan. Untuk memastikan agar keberlanjutan perusahaan jangka panjang membutuhkan Succession Plan yang matang dengan melibatkan sejumlah komponen di perusahaan keluarga dan berusaha dicapai dengan tingkat kesadaran dan ketekunan yang sangat tinggi (dalam Filse, Kraus & Ma¨rk, 2013). Hal yang krusial dalam perusahaan keluarga adalah pergantian pucuk pimpinan (suksesi). Banyak perusahaan yang tidak siap dengan pergantian kepemimpinan sehingga perusahaan tersebut harus terhenti di generasi pertama saja. Bagi pendiri perusahaan keluarga, keberhasilan suksesi adalah ujian akhir kejayaannya (James, 2006). Adalah sulit untuk memahami mengapa suksesi seringkali merupakan isu yang sensitif, khususnya bagi perusahaan keluarga generasi pertama. Orang yang mendirikan dan membesarkan, merasa sedih untuk ANALISIS DESKRIPTIF PROSES SUKSESI PADA PERUSAHAAN KELUARGA YANG BERGERAK DI BIDANG KONVEYOR Indra Wijaya dan Ronny H. Mustamu Program Manajemen Bisnis, Program Studi Manajemen, Universitas Kristen Petra E-mail: c_indra_r_d_7@yahoo.com; mustamu@petra.ac.id