85 RAGAM HIAS ULAR-NAGA DI TEMPAT SAKRAL PERIODE JAWA TIMUR* Hariani Santiko Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Jakarta hariani.santiko@yahoo.com Abstrak. Tinggalan Arkeologi dari masa Hindu-Buddha di Jawa Timur (abad ke-10-16), di antaranya berupa ragam hias ular-naga (ular dengan ciri-ciri isik naga) yang digambarkan sendiri, maupun bersama tokoh garuḍa. Ragam hias ular-naga ini ditemukan di kompleks percandian, pemandian suci (patirthan), dan di gua-gua pertapaan. Menarik perhatian adalah, ragam hias jenis ini tidak ditemukan pada kepurbakalaan masa sebelumnya, yaitu masa Hindu-Buddha di Jawa Tengah (abad ke-6 sampai awal abad ke-10). Untuk mengetahui gagasan yang melatari dipilihnya artefak tersebut, akan diterapkan metode arkeologi-sejarah, yaitu metode yang menggunakan data artefaktual dan data tekstual, berupa naskah-naskah atau prasasti. Kemunculan garuḍa bersama ular-naga ini, dikemukakan bahwa para seniman Jawa Kuno menggunakan cerita Samudramanthana (Amŗtamanthana) dan cerita Garuḍeya. Kedua cerita tersebut menceritakan pengambilan dan perebutan air suci amŗta (air suci, air penghidupan) antara dewa (śura) dan aśura. Ragam hias ular-naga terdapat pada Pemandian Jalatunda, Candi Kidal dan Candi Jabung, Candi Panataran, Candi Kedaton dan sebagainya. Dipilihnya cerita Samudramanthana dan Garuḍeya terkait dengan mitologi gunung dalam agama Hindu, yang merupakan “tangga naik” ke tempat dewa-dewa di puncaknya. Candi adalah bentuk miniatur dari Mahameru tersebut, tempat amŗta yang dijaga oleh ular-naga. Kata Kunci: Ksirārnawa (Lautan Susu), Kāla-Naga, Matīrtha, Cakra Abstract. Naga-Snake Ornaments at Sacred Places in East Java Period. Among those archaeological remains from Hindu-Buddhist in East Java period, dated from 8 th to 16 th centuries, was naga- snake ornament (snake with physical characteristic of a dragon) whether it stands alone or with a garuḍa igure. This ornament was found in temples, sacred bathing sites, and meditation caves. This ornament has not been found in earlier Hindu-Buddhist period in Central Java (early 6 th to early 10 th centuries). In order to understand the ideas behind this ornament selection, a historical-archaeology method was used based on artefactual and textual data, such as old manuscripts or inscriptions. East- Javanese śilpins used garuḍa and naga snake ornaments to manifest the story of Samudramanthana (Amŗtamanthana) and the story of Garudeya. Both stories tell the churning of the Ksirārnawa by the śura and aśura to get the amŗta (the holy water). This ornament can be found at Jalatunda bathing site, Kidal temple, and Jabung temple. The preference to use Samudramanthana and Garudeya stories was related with the mythology of the mountain in Hinduism, which is believed as a “ladder” to Gods’ place. A temple is a miniature of Mahameru, the location of amŗta, guarded by the dragon-snake. Keywords: Ksirārnawa (milk ocean), Kāla-Naga, Matīrtha, Chakra Naskah diterima tanggal 25 September 2015, diperiksa 16 Oktober 2015, dan disetujui tanggal 26 November 2015. 1. Pendahuluan Tinggalan arkeologi di Indonesia dari masa Hindu-Buddha (abad ke-7-16) sangat beragam, mulai dari bangunan suci berupa bangunan candi dan stupa, kolam suci (patirthān), gua pertapaan, arca-arca, ornamen pelengkap bangunan, dan penghias bangunan, alat-alat upacara dan sebagainya. Tinggalan arkeologi tersebut dikenal sebagai artefak, dan dalam karangan ini akan dibahas tentang artefak * Karangan dengan tema yang sama berupa makalah telah diajukan pada Seminar International Jawa Kuno 2004, tetapi telah direvisi oleh penulis.