123 Naskah diterima tanggal 18 September 2017, diperiksa 14 Desember 2017, dan disetujui tanggal 23 Desember 2017. BHIMA DAN TOYA PAWITRA DALAM CERITA “DEWA RUCI” Hariani Santiko Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Komda Jabodetabek hariani.santiko@yahoo.com Abstract. Bhima and "Toya Pawitra" in The Dewa Ruci Story. A number of statues and also reliefs of Bhima were found at the slope of mountains nearby the terrace sanctuaries from the Majapahit era. Besides the artefactual data, there is also a story known as Dewa Ruci, telling about Bhima being told by Drona to go to Candramuka Mountain and also to the wide ocean in search of the water of life (“toya pawitra”). Suddenly he met Dewa Ruci, who looks like Bhima but much smaller. Dewa Ruci explains to Bhima about the doctrine of the perfect life according to Śaiwasiddhanta teaching, and also the relationship between man, God and universe in terms of monistic mysticism. The purpose of writing this article is to ind out the result of the meeting between Bhima and Dewa Ruci. In this case I use the Historical-Archaeology and also the phenomenology method to understand the symptoms within culture, including archaeology. By talking to his Guru, Dewa Ruci, Bhima the ordinary Pandawa’s warrior became a Divine Guru in the world, who can give guidance to men who want to attain eternal unity between Servant and the Lord/God. Keywords: Toya pawitra, Lengkung Kala-mṛga, Bhima-bungkus, Sang Hyang Mahasukṣma Abstrak. Tinggalan arkeologi berupa arca dan relief Bhima banyak ditemukan di sekitar bangunan berundak teras di lereng-lereng gunung pada masa Majapahit Akhir. Di samping data artefaktual itu, terdapat sebuah cerita, yaitu cerita “Dewa Ruci”, yang sangat terkait dengan tokoh Bhima. Dalam cerita tersebut, Bhima disuruh Drona mencari toya pawitra ‘air penghidupan’ di Gunung Candramuka dan juga di tengah laut. Pada waktu itu muncul tokoh Dewa Ruci yang mirip Bhima, namun sangat kecil ukurannya. Ia memberi penjelasan (wejangan) tentang rahasia hidup yang terkait dengan ajaran agama Śaiwasiddhanta dan Bhima dianggap berhasil menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan kehidupan. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi atau metode “mengerti”, metode yang mengungkapkan makna berbagai gejala yang terkandung dalam kebudayaan, termasuk arkeologi. Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan arkeologi sejarah dengan menggunakan data aktefaktual dan data tekstual. Bhima yang pada awalnya adalah seorang pahlawan Pandawa, setelah bertemu dengan gurunya, Dewa Ruci, menjadi tokoh anutan atau semacam guru bagi mereka yang sedang menempuh “perjalanan spiritual” untuk mencari, bertemu, dan bersatu kembali dengan Tuhan. Kata Kunci: Toya pawitra, Lengkung Kala-mṛga, Bhima-bungkus, Sang Hyang Mahasukṣma 1. Pendahuluan Cerita “Dewa Ruci” pada intinya adalah cerita tentang Bhima yang disuruh oleh gurunya, Drona, mencari “air kehidupan” (tirtha amrta/ toya pawitra). Cerita itu sangat digemari oleh masyarakat Jawa. Berdasarkan penelitian Poerbatjaraka, cerita “Dewa Ruci” disusun dalam bahasa Jawa Tengahan dan memakai tembang gede, diperkirakan disusun pada sekitar abad ke-16 pada saat awal perkembangan agama Islam di Jawa. Namun, siapa pengarangnya tidak jelas (Poerbatjaraka 1940, 11-28). Cerita “Dewa Ruci” telah beberapa kali disadur dalam beberapa bahasa dengan gaya yang berbeda. Di samping karya sastra Jawa Tengahan yang dibicarakan oleh Poerbatjaraka tersebut, terdapat “Serat Dewa Ruci” yang disusun oleh Jasadipura I dalam bahasa Jawa Baru dan dalam tembang macapat. Selain itu, terdapat sebuah naskah memakai tembang gede