Prosiding Seminar Nasional Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM UMP 2014 ISBN 978-602-14930-3-8 Purwokerto, 20 Desember2014 164 Dampak Banjir Lahar Pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 pada Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kali Putih Kabupaten Magelang Rosalina Kumalawati 1* 1 Program Studi Pendidikan Geografi FKIP UNLAM Banjarmasin *Email : rosalinaunlam@gmail.com ABSTRAK Erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010 mengakibatkan banjir lahar di Kali Putih. Banjir lahar di Kali Putih mempunyai dampak yang cukup serius terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat. Analisis dampak sosial ekonomi diperlukan untuk perencanaan pembangunan masyarakat pascaerupsi Gunungapi Merapi khususnya di Kali Putih Kabupaten Magelang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dampak banjir lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di Kali Putih Kabupaten Magelang. Metode yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif dan kualitatif. Data diambil dengan cara survei lapangan dan wawancara mendalam. Wawancara dilakukan pada masyarakat yang tinggal di sepanjang Kali Putih Kabupaten Magelang. Masyarakat yang tinggal di Kali Putih Kabupaten Magelang meliputi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Srumbung, Salam, dan Ngluwar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat: (1) kondisi perekonomian masyarakat sempat terhenti karena mata pencaharian sehari-hari rusak akibat banjir lahar, (2) sektor pariwisata menjadi salah satu sektor pembangkit ekonomi lokal karena banyak yang berwisata ke daerah bencana, (3) sektor pertambangan dapat menjadi pembangkit perekonomian daerah bencana. Kata Kunci : Dampak, Sosial, Ekonomi, Banjir Lahar, Gunungapi Merapi PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang terletak pada sabuk Gunungapi Pasifik ( the ring of fire), kondisi ini menyebabkan banyak gunung berapi di Indonesia (Kusumadinata, 1979; Katili dan Siswowidjojo, 1994; Voighta et.al, 1998; Kelfoun et.al, 2000; Younga et.al, 2000; Prihadi, 2005; Sunarto, 2007; Sudibyakto, 2011). Gunungapi adalah suatu lubang bumi, dari lubang tersebut dapat dikeluarkan suatu inti bumi berupa batuan pijar atau gas panas, dan umumnya keduanya sering disebut magma, keluar dari dalam Bumi ke permukaan. Beberapa tipe letusan gunungapi dapat diramalkan pemunculannya, karena memiliki selang waktu letusan. Salah satu gunung berapi di Indonesia yang masih aktif adalah Gunungapi Merapi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Masih aktifnya Gunungapi Merapi membawa dampak positif maupun negatif bagi penduduk yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Merapi (Hadi, 1992). Dampak positif adalah material yang dikeluarkan oleh Gunungapi Merapi dari dalam perut bumi dapat dimanfaatkan atau diolah sesuai keperluan manusia. Dampak negatif, aktivitas gunungapi menyebabkan adanya bahaya yang dibedakan menjadi bahaya primer dan bahaya sekunder (Wahyono, 2002). Bahaya primer merupakan bahaya yang berkaitan langsung dengan letusan, muatan panas berupa padatan, cairan dan gas tinggi akan menghanguskan apa saja yang dilewatinya. Guguran lava pijar dan awan panas yang dikeluarkan oleh Gunungapi Merapi merupakan contoh bahaya primer. Bahaya sekunder merupakan bahaya yang ditimbulkan secara tidak langsung, jika hujan turun, lahar meluncur ke bawah dan menutup semua yang dilewatinya. Banjir lahar merupakan salah satu contoh bahaya sekunder. Banjir lahar merupakan salah satu dampak sekunder dari aktivitas Gunungapi Merapi, mempunyai daya perusak yang tinggi karena aliran mempunyai kadar kekentalan yang tinggi. Banjir lahar terjadi terutama ketika musim penghujan tiba. Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah ancaman longsor lava. Longsoran lava disebabkan pertambahan volume material puncak gunungapi, menambah kemiringan kubah material. Jika titik kestabilan terlampaui, maka material mengalami pelongsoran dengan kecepatan tinggi (Muhammad Wahid, 2008). Penelitian ini dilaksanakan di Kali Putih secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Magelang. Berdasarkan peta lokasi desa terdampak banjir lahar Gunungapi Merapi di wilayah Propinsi Jawa Tengah yang dikeluarkan oleh BNPB, update 17 Januari 2011, Kali Putih merupakan daerah bahaya gunungapi (Gambar 1). Masuknya daerah bahaya karena perkembangan erupsi gunungapi sebagian aliran lahar mengalir ke arah Kali Putih, dilain pihak merupakan daerah padat penduduk. Banjir lahar pascaerupsi Gunungapi Merapi 2010 menyebabkan kerusakan baik dari segi lingkungan maupun di bidang sosial ekonomi. Lima desa terkena dampak banjir lahar, yaitu Desa Jumoyo, Gulon, Seloboro, Sirahan dan Blongkeng (Tabel 1. dan Gambar 2).