1 PSIKOLOGI PERKAWINAN *) Liche Seniati Chairy **) Kini saat yang terindah, kita berdua Tuhan satukan kita dalam kasihNya yang indah Kini kita t’lah berjanji dihadapanNya Memasuki mahligai cinta atas kasihNya. Indah, indahnya hidup ini Cinta, yang Tuhan berikan pada kita berdua Indah, indahnya hidup ini Bersama Tuhan selalu menggapai hari esok. Kehidupanku, kehidupan kita berdua Bersandar padaNya. (Saat Terindah, Ciptaan Ivan D. Penyanyi: Lydia N. & Ronny T. dalam Wedding Songs. Maranatha. 2000) Apakah anda siap? Dalam kehidupan sehari-hari, kata perkawinan adalah kata yang sering kita dengar dan telah kita pahami artinya. Bagi anda semua yang sedang berada di sini, tentunya perkawinan adalah yang sangat dinantikan dan diharapkan dapat segera terwujud. Jika saya bertanya: “Apakah anda sudah siap memasuki kehidupan perkawinan?”. Banyak pasangan mungkin akan langsung menjawab: “Tentu saja. Kami sudah mempersiapkan gedung tempat resepsi, kami sudah menyiapkan gaun pengantin, kami sudah mendesain dan mencetak kartu undangan, kami sudah mendaftar kepada Romo, dan kami sedang mengikuti KPP. Pokoknya semua sudah kami siapkan”. Pertanyaan saya berikutnya adalah: “Apakah betul secara mental anda siap menghadapi perkawinan dengan segala konsekuensi yang mungkin muncul dari perkawinan tersebut”. Sebagian pasti berani menjawab; “Ya, kami siap”. Sebagian mungkin menjawab dengan lirih: “Tampaknya saya … kami siap”. *) Disampaikan dalam Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) Paroki Santo Paulus – Depok, 21 Mei 2006 **) Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia