ISBN : 978-602-61371-1-1 Prosiding Seminar Nasional Hayati V 2017 Kemampuan Fagositosis Sel Makrofag Terhadap Staphylococcus aureus Isolat Asal Ayam dengan Opsonisasi Secara In Vitro Dianita Dwi Sugiartanti 1 , Siti Isrina Oktavia Salasia 2 1 Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Nusantara PGRI Kediri 2 Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada Email: dianita_sugiartanti@yahoo.com Abstrak Infeksi Staphylococcus aureus mempunyai peran penting dalam dunia kesehatan hewan dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan fagositosis sel makrofag terhadap Staphylococcus aureus isolat asal ayam melalui peran opsonisasi secara in vitro. Dalam penelitian ini digunakan isolat Staphylococcus aureus asal ayam yang mengalami artritis, bumble foot dan swollen head yang diidentifikasi secara fenotipik. Kemampuan S.aureus dalam menghindari sistem pertahanan seluler tubuh, dilakukan melalui uji fagositosis menggunakan sel makrofag mencit dengan opsonisasi secara in vitro, makrofag diisolasi dari peritoneum mencit. Uji fagositosis dilakukan secara in vitro dengan mencampurkan 100 µL suspensi sel makrofag (10 5 sel/mL) dengan 100µL suspensi Staphylococcus aureus (10 9 bakteri/mL), kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37 ο C dalam waterbath. Aktivitas fagositosis makrofag ditentukan dengan cara menghitung jumlah bakteri yang difagosit oleh setiap sel makrofag dari 10 sel makrofag pada setiap preparat. Hasil uji fenotipik dapat teridentifikasi 11 isolat asal ayam pedaging positif Staphylococcus aureus. Jumlah rata-rata bakteri yang difagosit oleh sel makrofag dengan opsonisasi terhadap S.aureus (26,64 bakteri/sel), fagositosis sel makrofag tanpa opsonisasi (18,39 bakteri/sel). Opsonisasi mampu meningkatkan fagositosis makrofag secara signifikan (p<0.05) dibanding tanpa opsonisasi. Aktivitas fagositosis sel makrofag terhadap S.aureus dapat ditingkatkan dengan mediator serum sebagai opsonin Kata Kunci Staphylococcus aureus, ayam, makrofag, opsonin, in vitro PENDAHULUAN Konsumsi daging ayam pedaging per kapita di Indonesia mengalami pertumbuhan yang positif setiap tahunnya dibandingkan jenis-jenis daging lain. Rata-rata pertumbuhan konsumsi daging ayam pedaging adalah sebesar 4,60% per tahun [1]. Ayam yang terinfeksi Staphylococcus aureus tidak akan sembuh meskipun sudah dilakukan pengobatan. Hal itu menyebabkan biaya pengobatan meningkat sedangkan ayam masih dalam kondisi sakit sehingga pertumbuhan badan terhambat dan waktu pemeliharaan lebih lama. S. aureus dapat dimusnahkan dari permukaan kulit dengan terapi antibiotika, namun bakteri akan tetap tumbuh pada jaringan ikat yang lebih dalam, menyebabkan S. aureus cenderung menjadi resisten terhadap antibiotika [2]. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan 101