1 IDENTIFIKASI JENIS-JENIS TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT DI JALAN PARIT H. HUSIN 2 KECAMATAN PONTIANAK TENGGARA Identification of Medicinal Plants in Parit H. Husin 2 Street, Pontianak Tenggara Subdistrict Fadillah H. Usman, Fathul Yusro, Gusti Eva Tavita, Lolyta Sisillia, Sondang M. Sirait Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124 Email: fathulyusro@yahoo.com ABSTRACT The aim of this research is to identification of medicinal plants in Parit H. Husin 2 street Pontianak Tenggara Subdistrict. Method of the research is documentation part of plants, take some of leaf and species identification in laboratory. The quantity of medicinal plants are 65 species that distribution in 42 family, majority family is Euphorbiaceae (6 species), 50.77% used for both of outside and inside of body, 43.08% used only for inside of body and 6.15% used only for outside of body. Keywords: Identification, medicinal plants, Parit H. Husin 2 street, Pontianak Tenggara Subdistrict. PENDAHULUAN Sebagian masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat masih mengandalkan kekayaan alam di lingkungan sekitarnya berupa tumbuhan obat untuk menanggulangi masalah kesehatan yang dihadapinya. Pengetahuan tentang tumbuhan berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan keterampilan yang secara turun temurun telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun keberadaan tumbuhan obat tersebut belum sepenuhnya teridentifikasi dan teruji secara ilmiah sehingga perlu terus dilakukan penelitian dan pengembangan. Tumbuhan obat dapat berupa tanaman lapisan terbawah, liana, terna, perdu dan berbagai jenis pohon. Keberadaaan tumbuhan tersebut ada di dalam hutan maupun di lingkungan sekitar kita seperti di pinggiran jalan yang berfungsi sebagai tanaman peneduh, tanaman hias maupun tanaman yang tumbuh secara liar. Tumbuhan obat yang terdapat di Jalan Parit H. Husin II Kecamatan Pontianak Tenggara merupakan salah satu kelompok komoditas hutan yang terus mengalami erosi dengan pesat yang diakibatkan oleh beberapa hal antara lain kerusakan habitat akibat alih fungsi hutan menjadi kompleks perumahan, pelebaran jalan, daya regenerasi yang lambat pada beberapa jenis tanaman terutama untuk jenis tumbuhan tahunan (perennial crop) dan kurangnya perhatian terhadap upaya pelestarian antara lain melalui usaha budidaya (Galingging dan Bhermana, 2007). Selain itu proses modernisasi dan munculnya beberapa masalah seperti tekanan ekonomi, pertambahan penduduk, sosial budaya dan peraturan baru, memacu terjadinya kerusakan atau hilangnya sumberdaya hayati yang belum terkaji.