Jom FTEKNIK Volume 2 No. 2 Oktober 2015 1 Pre-Treatment Jerami Padi Menggunakan Proses Organosolv dengan Variasi Konsentrasi Pelarut (CH 3 OH) dan Waktu Pemasakan Yohana Siregar 1) , Elvi Yenie 2) , Syarfi Daud 3) 1) Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, 2) Dosen Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau Kampus Binawidya Jl. HR. Soebrantas KM 12,5 Pekanbaru Kode Pos 28293 email: Yon_Y3@yahoo.com ABSTRACT Rice straw is one of agricultural waste products which has not to be used in huge area. Rice straw is usually used for some purposes, such as roofs and fodder. Biomass or rice straw is composed of three main components, namely cellulose (34.2%), hemicellulose (24.5%) and lignin (23.4%). Delignification aims to separate lignin from other compounds contained in the biomass by using an organic solvent which is methanol. Due to this solvent is easier to obtain, more friendly to enviroment, and the solvent could be recovered back. Lignin contained in rice straw could potentially be used as a source of alternative materials in various industries, the one is adhesive industry. The aims of this research are to study the effect of the concentration of solvent and cooking time to the achieve the lignin. The study was conducted with a cooking time of 60; 120; and 180 minutes, the concentration of methanol 65; 75; 85; and 95 % w/w. The process steps in this research include size reduction by using mixing, cooking (delignification) using methanol, then washing and filtering stages. In this research, the lignin yield best at 13.6 % which was obtained at cooking time of 120 minutes with 65 % methanol concentration and the lignin content of 20.5 % w/w. Lignin was analyzed functional groups with the Fourier Transform Infra Red spectroscopy (FTIR ) . Keywords: Cooking, Delignification, Fourier Transform Infra Red spectroscopy (FTIR), Lignin, Organosolv, Rice Straw I. Pendahuluan Indonesia adalah negara yang berlimpah akan sumber daya alam (biomassa) yang dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekonomis, salah satunya adalah jerami padi. Luas lahan pertanian padi di Indonesia sendiri adalah 12.883.576 ha, dengan produksi beras yang dihasilkan mencapai 64.329.329 ton. Produksi jerami padi dapat mencapai 12 - 15 ton per hektar per panen [BPS, 2009]. Komoditi unggulan Provinsi Riau untuk sektor pertanian terdiri dari padi, jagung, umbi-umbian dan lain-lain. Khusus untuk tanaman padi, daerah Riau merupakan salah satu wilayah yang memiliki lahan pertanian yang luas yaitu 147.796 hektar [BPS Riau, 2012] yang menghasilkan jerami padi berkisar 2,216.94 ton/panen. Jumlah jerami yang dihasilkan dari hasil pertanian ini sangat berpotensi sebagai bahan baku pembuatan energi alternatif seperti bioetanol, bahan perekat, bahan komposit dan sebagai sumber lignin. Jerami padi merupakan limbah hasil pertanian yang belum dimanfaatkan dengan optimal. Jerami padi digunakan untuk beberapa kepentingan seperti atap rumah, pupuk dan pakan ternak [Komar, 1984]. Sebagian besar petani membakar jerami padi begitu saja, pembakaran jerami padi mengakibatkan terbentuknya emisi gas berbahaya seperti CO 2 dan gas methane (CH 4 ) dan sebagian menumpuk jerami padi begitu saja, penumpukan ini dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global dan dapat mengganggu saluran pernafasan manusia. Biomassa atau jerami padi terbentuk dari tiga komponen utama yakni selulosa,