PENDAHULUAN Menurut Januar (2006), Agroindustri menjadi pilihan untuk segera dikembangkan dengan konsep pemberdayaan petani kecil. Melalui konsep tersebut, diharapkan mampu menumbuhkan sek-tor pertanian, sehingga mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal penca-paian sasaran mampu menyediakan pangan dengan berbagai ra-gam pangan olahan, sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan, merupakan pasar bagi hasil pertanian, menghasilkan devisa, menyediakan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan nasional, mempertahankan kelestarian sumberdaya. Kegiatan agroindustri mempunyai ke-unggulan komparatif dan keterkaitan ke depan dan ke belakang yang sangat besar. Keterkaitan tidak hanya dengan produk (bahan baku) tetapi juga dengan konsumsi, investasi dan iskal. Produk agroindustri umumnya memiliki nilai elastisitas yang tinggi, se-hingga semakin tinggi pendapatan seseorang maka akan semakin terbuka pasar bagi produk agribisnis. Salah satu komoditas yang digunakan sebagai bahan baku agroindustri adalah kupang. Kupang merupakan salah satu hasil perairan laut dan termasuk dalam kelompok kerang-kerangan. Kupang memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, khususnya kandungan protein (9-10%). Kadar protein yang cukup tinggi merupakan sumber gizi yang penting bagi masyarakat. Pemanfaatan kupang masih terbatas pada daerah-daerah tertentu dan belum dikenal luas oleh masyarakat. Keberadaan kupang di Jawa Timur, terdapat dan tersebar di sepanjang pantai Sidoarjo, Surabaya, Bangil, Gresik, Pasuruan, dan sekitarnya (Prayitno dan Susanto 2001). Salah satu kabupaten yang memiliki potensi dalam peningkatan produksi kupang adalah Kabupaten Sidoarjo. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PENGEMBANGAN HOME INDUSTRY KUPANG KERING DI DESA BALONGDOWO KECAMATAN CANDI KABUPATEN SIDOARJO Ari Wahyu Diarsa 1) , Jani Januar 2) , Anik Suwandari 2) 1 Mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember 2 Dosen Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember E-mail: ari.wahyu.diarsa@gmail.com ABSTRACT Mytilus is the raw material for making dried mytilus. Home industry located in Balongdowo village, Sidoarjo regency has long been cultivated, but until now most of the craftsmen have not showed signiicant development. This study was aimed to determine value added of shellish based product dried, cost eiciency of dried shellish processed product, and development strategy at dried shellish home industry in Balongdowo Village, Sidoarjo Regency. Analyzer used include analysis of value added, analysis eiciency cost, and SWOT analysis. The result of the analysis shows that: (1) Home industry shellish dried in the use of production cost has been eicient, (2) Wet shellish added value in shellish dried home industries medium, (3) The appropriate development strategy to be applied was using the W-O strategy that was by dried shellish industry should use labour maximization, good packaging process, labelling, and try to get healt-assesment certiication to expand the marketing process. Keywords: Shellish; Value Added; Cost Eiciency; SWOT. 30 JSEP Vol 10 No. 3 Maret 2017