BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Ethnography disebut dengan banyak istilah seperti Ethnology istilah yang sampai sekarang masih dipakai di negara Inggris dan Amerika, Volkerkunde adalah istilah yang dipakai terutama dinegara-negara Eropa Tengah, dan Kulturkunde istilah yang pernah dipakai oleh seorang antropolog dari Jerman, L. Frobenius. Semua istilah ini menunjukan pada suatu pengertian yang sama. Ethnography berarti “pelukisan tentang bangsa-bangsa”. Istilah ini dipakai umum di Eropa Barat untuk menyebut bahan keterangan yang termaktub dalam karangan-karangan tentang masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa diluar eropa, serta segala metode untuk mengumpulkan dan mengumumkan bahan itu. Sampai sekarang istilah itu masih lasim dipakai untuk menyebut bagian dari ilmu antropologi yang bersifat deskriptif (Koentjaraningrat, 1986, 10). Etnografi adalah ilmu yang mencoba mencapai pengertian mengenai azas-azas manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam kehidupan masyarakat dari sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar diseluruh muka bumi pada masa sekarang ini. Akhir-akhir ini telah berkembang dua golongan penelitian, yaitu golongan yang satu menekankan kepada bidang diakronik (berarti berturut-turut dalam berjalannya waktu), sedangkan yang lain menekankan kepada bidang sinkronik (berarti berdampingan dalam waktu yang sama) dari kebudayaan umat manusia. Nama yang tetap untuk kedua macam penelitian ini belum ada, tetapi sering dapat kita lihat adanya nama-nama seperti Descriptive Integration untuk penelitian- penelitian yang diakronik, dan Generalizing Aproach untuk penelitian-penelitian yang sinkronik (Koentjaraningrat, 1986, 14). Descriptive Integration selalu mengenai suatu daerah tertentu. Bahkan keterangan pokok yang diolah ke dalam deskriptif integrasi dari daerah itu adalah terutama bahan keterangan etnografi, sedangkan bahan seperti fosil, ciri ras, artefak-artefak, bahasa lokal diolah menjadi satu dan diintegrasikan menjadi satu dengan bahan etnografi tadi. Descriptive Integration mempunyai tujuan untuk mencari pengertian tentang sejarah perkembangan dari suatu daerah, artinya mencoba memandang suatu daerah pada bidang diakroniknya juga (Koentjaraningrat, 1986, 15). Generalizing Aproach bertujuan mencari azas persamaan dibelakang aneka warna dalam beribu-ribu masyarakat dari kelompok-kelompok manusia dimuka bumi ini. Pengertian tentang azas tersebut dapat dicapai dengan metode-metode yang dimasukan kedalam dua golongan, yaitu: 1. Golongan pertama terdiri dari metode sampel area sebanyak paling sedikit tiga sampai lima masyarakat dan kebudayaan, dengan penelitian mendalam dan bulat. 2. Golongan kedua terdiri dari metode komparatif dengan mengambil unsur kebudayaan tertentu dan sebanyak mungkin masyarakat yang diteliti (dua-tiga ratus masyarakat yang diteliti atau lebih). (Koentjaranigrat, 1986, 15) 1